Children and Animal : Ragunan Zoo, A Short Family Trip (Part 2)

Setelah beberapa hari yang lalu Saya sedikit sharing tentang perlengkapan perang, kali ini Saya mau sharing tentang kondisi Ragunan Zoo (Kebun Binatang Ragunan Jakarta) saat Saya kunjungi di awal September lalu.

Seperti yang sudah Saya jelaskan sebelumnya, Saya datang agak siang tapi tidak sampai jam 10. Kondisi Ragunan sudah ramai, bahkan bis-bis sudah ada yang parkir, didalam pun saat Kami sekeluarga mulai masuk ternyata lebih ramai.

Dari beberapa jam kunjungan, Saya merangkum beberapa hal menarik dan mengecewakan selama berada disana.

Jakcard

Saat mobil masuk ke dalam pintu masuk, Kami ditanya apakah mempunyai Jakcard, karena Saya belum memiliki Jakcard Saya diberikan  Jakcard yang sudah ada saldonya sesuai dengan jumlah orang yang ada di mobil. Saya tidak ingat apakah ada sisanya atau tidak tapi nanti Jakcard itu akan di tap pada saat masuk ke dalamnya.

Kekurangannya bagi pengguna baru seperti Saya tidak ada selebaran atau informasi kegunaan dari Jakcard tersebut. Setelah saya googling ternyata Saya baru tahu kegunaan dari Jakcard memang untuk memudahkan bertransaksi di Ragunan Zoo. Untuk lebih jelasnya mengenai Jakcard bisa di klik link ini ya

https://ragunanzoo.jakarta.go.id/2016/09/pengunjung-sebagai-pemilik-kartu-jakcard/

Peta & Penunjuk Arah

Kita semua tahu, Ragunan merupakan Taman Margasatwa yang sangat luas. Saya sendiri nggak sanggup untuk datang ke semua tempatnya. Saya membayangkan saat baru masuk ke dalam Saya diberikan map seperti waktu berkunjung ke Sentosa Island. Saya juga kebingungan membaca petunjuk arah, misalkan waktu itu Saya ingin melihat harimau putih setelah mengikuti arah Saya ternyata kesasar dan tidak sampai ke tempat harimau putih.

Semoga bisa ada aplikasi yang memuat map dengan jelas atau semacam navigasi di dalam aplikasi tersebut yang bisa di akses selama pengunjung berada di dalam. Atau untuk yang kesulitan dengan membaca peta dalam aplikasi bisa dibekali dengan maps dan juga untuk penunjuk arah semoga bisa ditambah dan diperjelas lagi, karena tidak sedikit pengunjung terutama pengunjung dari warga negara asing yang tersesat.

Klasifikasi Binatang

Saya membayangkan melihat berbagai jenis kucing disana, maksud Saya disini adalah si kucing besar seperti macan, harimau dan jenisnya karena K suka sekali dengan kucing. Tapi akhirnya, didalam Ragunan Saya kebingungan. Kebetulan dari pintu masuk Utara 3 binatang yang pertama kali Saya lihat adalah Jerapah dan Gajah, memang tidak jauh ada penunjuk arah untuk melihat harimau, tapi lagi-lagi Saya kebingungan dengan penunjuk arah tersebut.

Kenapa harimau dan jenisnya harus berjauhan? seperti beberapa binatang yang lainnya dengan jenis yang sama tapi letaknya berjauhan. Ini hanya pendapat Saya saja, kalau Saya sendiri lebih menikmati binatang perfamilinya, seperti monyet tidak diletakkan sebelahan dengan beruang madu kecuali ada beberapa jenis monyet disana dan ada terselip beruang madu sepertinya masih enak untuk dilihat.

Akan tetapi beberapa binatang seperti jenis unggas, ikan, ular sudah ada yang digabung penempatannya.

Lokasi yang kurang bersahabat, Petugas yang minim dan kebersihan

Bagi siapa pun orangtua yang memiliki anak dibawah umur atau paling tidak dibawah usia 10 tahun pasti memikirkan hal ini jika ingin bepergian. Apakah lingkungannya sudah aman untuk anak? Walaupun Kita para orangtua mengawasi tapi lingkungan tempat berekreasi keluarga harusnya ramah untuk anak-anak.

Perhatian Saya tertuju ke sekitar tempat kuda nil, disana ada danau tapi dibeberapa bagian tidak ada pagar pembatas. Ada juga got seperti kali berukuran sedang, arusnya cukup deras dan tidak ada pengamanan. Di beberapa bagian juga seperti tidak terawat, entah tujuannya agak serupa dengan kondisi hutan atau bagaimana tapi seperti tidak terawat dan kurang aman untuk anak-anak.

Lagi-lagi, kurang penanda pada bagian ini. Tidak ada rambu-rambu seperti rambu bahaya, hati-hati atau himbauan yang lainnya. Minimnya petugas diseluruh area juga menyulitkan orang-orang yang tersesat.

Mungkin sekedar masukan kepada pihak Ragunan agar bisa membuat pos-pos penjagaan di titik-titik tertentu. Walaupun sudah ada beberapa petugas yang lewat sesekali dengan motor tetap saja jumlahnya tidak banyak.

Terkait dengan kebersihan memang pada beberapa bagian tidak bersih, banyak sampah dan tidak ada petugas kebersihan tapi mungkin saja ada, hanya saja Saya yang tidak melihat atau memang jumlahnya yang tidak banyak. Untuk kamar mandi standart seperti kebanyakan tempat, karena semua kembali lagi kepada pengunjungnya juga apakah sudah menjaga kebersihan itu sendiri?

 

Sarana duduk-duduk atau picnic area

Walaupun banyak disediakan tempat lapang dan ada taman rekreasi, masih ada beberapa dari orang-orang yang menggelar lapak sembarangan. Mungkin peraturan dimana bisa menggelar tikar perlu dipertegas lagi dan kembali lagi mengenai kebersihan perlu diperbanyak sarana tong sampah, petugas kebersihan dan kesadaran pengunjung untuk tidak sembarangan.

 

Nursery Room

Penting tidak penting untuk Ibu menyusui khususnya. Penting jika ingin sekaligus mengganti popok anaknya, dan mungkin bagi Ibu-Ibu yang tidak biasa menyusui diarea terbuka walaupun sudah menggunakan apron menyusui. Saya tidak tahu apakah ada nursery room di Ragunan, tapi buat Saya nursery room itu menjadi bagian tidak terlupakan bagi mereka yang punya anak balita, bahkan nursery room perlu juga untuk anak yang sudah tidak menyusui.

 

Beberapa kandang seperti tidak terawat

Miris rasanya melihat beberapa binatang kepanasan (lebay nggak sih? tapi bener ruangan mereka tidak terlalu layak), kandangnya bau dan terlihat kusam, tidak terawat. Saya sendiri sebenarnya lebih suka konsep para pengunjung yang di’kurung’ untuk melihat binatang, bukan binatang yang di’kurung’. Tapi setidaknya jika konsepnya seperti Ragunan, perhatikan lah kandang mereka, kebersihannya, apakah layak atau tidak karena dari para binatang ini lah kebun binatang bisa ‘hidup’.

Murah

Masuk Ragunan Zoo tidak mahal, tidak sampai 10 rb, tapi mungkin karena tiket yang terjangkau ini lah beberapa fasilitas terlihat seadanya. Padahal untuk menaikkan tiket beberapa ribu saja menurut Saya masih cukup terjangkau, dan dananya nanti bisa digunakan untuk pemeliharaan bahkan menambah staff agar Ragunan bisa lebih baik lagi.

Buat Saya binatang apa pun itu sama halnya dengan manusia yang membutuhkan kasih sayang, akan sangat disayangkan jika mereka tidak diperlakukan dengan baik.

Sekali lagi review ini hanya dari kacamata Saya, orang awam, seorang Ibu yang memperhatikan sambil membawa anaknya untuk melihat kehidupan lain agar dia bisa lebih berempati.

Semoga Ragunan menjadi semakin baik dengan berbagai fasilitasnya.

Selamat hari Senin.

#Saya nggak bisa foto banyak disana, soalnya terlalu riweuh dengan euforia anak Saya pertama kali ke Ragunan

Advertisements

Children and Animal : Ragunan Zoo, A Short Family Trip

Minggu Kemarin ada ajakan untuk jalan-jalan singkat ke Ragunan dalam rangka ulang tahun Sepupu K. Jalan-Jalan singkat dengan ipar-ipar, mertua dan beberapa kerabat. Saya sendiri sudah beberapa kali ke Ragunan, seringnya ke bagian primata dan biasanya merupakan rangkaian kegiatan sekolah dimana Kita harus mengobservasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya sudah dilampirkan di selembar kertas. Tapi kali ini tidak ada kertas-kertas, yang ada “tas perang” punya K, stroller & gendongan. WAJIB. Singkat cerita sampailah Kami disana walaupun sudah agak siang, sekitar jam 9, dan sudah cukup ramai mobil-mobil dan juga motor terparkir disana.

Kami berkeliling sampai sekitar jam 1 siang, dan dari kunjungan tersebut Saya berniat merangkum beberapa hal positif dan juga negatif dari Ragunan Zoo. Tidak untuk menjelekkan atau melebih-lebihkan tapi memang hanya sekedar sharing pengalaman saja, tapi sebelum itu Saya juga mau share perlengkapan yang mungkin saja dibutuhkan selama disana bagi Mommy diluar sana yang punya anak usia 2 tahun kebawah dan ingin dibawa ke Ragunan.

Membawa anak ke kebun binatang? Dia kan belum ngerti-ngerti amat?
Kalo Saya dulunya berpikir ‘agak’ seperti itu tapi kalau dipikir-pikir, jalan-jalan ke kebun binatang juga bisa menghilangkan stress, bukan hanya si anak tetapi orangtuanya juga. Banyak kelebihannya, seperti Saya dan Suami bisa olahraga sambil gendong K, dorong stroller sambil menguatkan otot tangan, ngejar-ngejar K dan masih banyak lagi. Sementara si anak? tentunya excited dengan ketemu banyak orang, melihat banyak binatang, bisa ketemu lapangan luas dan lari-larian (buat anak tenaga berlebih kayak K, ini surga dunia). Namun, sebelumnya wajib untuk memastikan kondisi anak sedang sehat ya Mom.

Sebelum berangkat kesana, ada banyak yang harus dipersiapkan. Lebay kah ? Nggak juga. Buat Saya hati-hati dan nggak sembarangan lebih baik, nggak ada yang tempat yang benar-benar bersih sempurna sebaliknya nggak ada anak yang nggak boleh kotor-kotoran atau bermain lepas. Berdasarkan jalan-jalan kemarin Saya menangkap beberapa benda penting yang bisa dipertimbangan untuk disiapkan :

Stroller, Gendongan & Tas dan seisinya

Stroller menjadi barang wajib untuk jalan-jalan seperti ini, karena bisa berfungsi banyak. Kalau Saya sendiri lebih suka pakai stroller besar, di rumah ada 2 stroller yaitu stroller nunna (besar) dan cocolatte (kecil, bisa dilipat dan bisa masuk cabin pesawat). Kenapa Saya lebih suka pakai yang besar? karena kalau K lagi digendong atau jalan stroller ukuran  besar bisa digunakan untuk menaruh berbagai barang. Ribet memang karena ukurannya yang besar tapi bisa bermanfaat banyak.

Gendongan yang Saya gunakan bergantian dengan Pak Suami merk ergobaby, sejauh ini cukup nyaman walaupun tidak hipseat. Sebenarnya untuk gendongan bisa menjadi pilihan tersendiri, kalau memang lebih nyaman untuk menggunakan gendongan kain atau geos tidak masalah juga. Tapi kalau Saya lebih suka tangan Saya tidak repot memegang kain, karena Saya tipe Ibu yang tidak terlalu yakin menggunakan gendongan seperti itu karena kaki tidak terjaga (tidak seperti celana yang kemungkinan anak jatuh sedikit, terlebih Saya tidak terlalu mahir menggunakan gendongan semacam itu. (SALUT BUAT YANG BISA, sungguhan… Saya mau banget bisa mahir pake, tapi apalah daya…).

Tas menjadi bagian paling penting karena tas yang Kita bawa harus super nyaman mengingat harus berjalan kaki terus. Saya pernah membeli ransel merk oruru (IG : oruru.bag) sepaket dengan cooler bag, tapi untuk ke Ragunan Saya tidak membawa cooler bag karena makanan semua aman selama ada Ibu Mertua Saya (Thank you Bunda…) Jadi di tas Saya hanya isi baju ganti, pampers, tisu kering, tisu basah (tisu basah bayi biasa & tisu basah khusus untuk mulut dan tangan), sunblock, minyak telon krim, bedak bayi, dan ylo (young living oil yang sudah dicampur di botol kaca jadi tinggal semprot-semprot), tas plastik (untuk buang pampers, karena Saya geli kalau langsung buang gitu. Banyak Ibu-Ibu yang masih asal saja membuang pampers anaknya tanpa diplastik, Please Mom…itu jorok banget Mom please hargai juga mereka yang bekerja sebagai pertugas kebersihan).

Selain keperluan dasar Saya bawa 1 buku K, 1 mainan, saputangan handuk, cemilan (puff nestle yang baru booming & rasanya enak), alat makan, susu dan botol2nya termasuk thermos. Kebetulan Saya juga tidak membawa tas jadi dompet, HP, mukena dan perlengkapan Saya yang lainnya juga digabung. Masih ada space tersedia di dalam tas tapi Saya tidak isi penuh, botol minum juga Saya taruh di stroller karena meminimalisir pegal punggung.

Catatan penting disini Mama & Papanya juga perlu bawa minum, bawa saputangan handuk, pakai sepatu nyaman dan perlengkapan lainnya yang mungkin dibutuhkan seperti obat. K juga Saya bawakan obat tapi obat standart saja, obat panas karena obat yang lain seperti kalau tiba-tiba terasa kembung atau muntah ylo cukup membantu.

Untuk Mama Papanya atau mungkin babynya suka pakai topi, better pakai karena cukup panas. Kalau K entah kenapa dari bayi selalu ngamuk kalau ada yang menutupi kepalanya. Untuk mensiasati ini, Saya memberikan K banyak minum agar tidak dehidrasi karena panas. Kulitnya Saya oles sunblock, dan tidak terlalu memaparkan sinar matahari langsung ke K jika sudah mendekati jam 11.

Setiap keluarga pastinya memiliki perlengkapan perangnya sendiri kalau bepergian, seperti contohnya Ibu Mertua Saya. Selain makanan, beliau membawa tikar dan persediaan minum (untuk menghemat budget) dan juga alat makan serta plastik untuk membuang sampah. Bisa juga ada keluarga yang suka memakai kacamata hitam untuk alasan tertentu, dan masih banyak lagi, atau bahkan ada juga yang tidak seribet Kami hanya membawa air minum dan perlengkapan dasar anaknya juga tidak masalah. Semua kembali lagi kepada kenyamanan saat jalan-jalan dan menikmati semua yang ada disana.

Sebagai gambaran tambahan, Saya ingin menjabarkan kondisi Ragunan disaat saya datang pada postingan selanjutnya. Semoga K bersahabat jadi Mamanya bisa segera menyelesaikan tulisannya.

Selamat berakhir pekan !

Kiland Road To 1 Year : Perlengkapan bayi (Part 1)

Baby Crib

Baby Bouncer

Baby Soap

Lotion

Stroller

Mosquito Repellent…

Membeli perlengkapan bayi memang tidak ada habisnya, bahkan Kita tergiur untuk selalu mencoba produk baru atau membeli produk yang sama tapi wangi yang berbeda. Kadang juga barang yang belum tentu diperlukan ternyata ikut dibeli juga. Membeli banyak furniture baru untuk mendekor kamar bayi, sah-sah saja memang jika memiliki persiapan keuangan yang berlebih atau memiliki ruangan yang luas dan mudah untuk di dekor.

Postingan Saya ini akan membahas 6 bulan pertama perlengkapan bayi yang dibutuhkan di rumah, serta setting ruangan yang Saya gunakan selama 6 bulan pertama. Semua yang Saya tulis berdasarkan kondisi dan situasi rumah yang sudah Saya jelaskan di postingan sebelumnya, yaitu tanpa ART dan Saya sering pergi keluar.

Hari pertama Saya pulang dari RS langsung menuju ke rumah mertua Saya. Kebetulan Saya pulang dengan menggendong bayi Saya dan tidak ditidurkan di baby car seat karena memang car seat Saya tidak kompatibel dengan mobil. Tetapi menurut Saya agak was-was untuk meletakkan bayi di car seat dengan kondisi jalanan Jakarta yang macet dan membuat waktu tempuh perjalanan menjadi lama. 

Berikut list barang yang Saya gunakan :

Perlengkapan Ibu

  • Jamu habis bersalin, kalau Saya menggunakan jamu merk nyonya meneer. Bagi Saya ini wajib, kudu! Fungsinya membantu membersihkan secara menyeluruh darah-darah yang ada di dalam tubuh karena selama 9 bulan Kita tidak haid. Tetapi kembali lagi disesuaikan dengan kondisi, kalau Saya memang penikmat jamu dan terbiasa minum jamu. Ada yang mengatakan jamu mempengaruhi ASI, jika takut hal ini terjadi gunakan jurus minum air putih dalam jumlah banyak saja.
  • Gurita Ibu, terpakai hanya beberapa minggu saja karena setiap menggunakan gurita entah kenapa anak Saya menyusu kurang tenang, mungkin karena tidak langsung menempel ke kulit Saya.
  • Maternity Pad, masih menjadi pahlawan sampai 40 hari bahkan sampai sekarang di 2 hari pertama haid Saya pasti menggunakan maternity pad dibanding pembalut biasa karena permukaannya lebih halus dan daya serapnya banyak.
  • Bio Oil, minyak untuk menghilangkan stretchmark  buat Saya yang telat memakai minyak seperti ini yang seharusnya dipakai dari sebelum melahirkan. Pemakaiannya wajib rutin kalau tidak ya akan lama hilangnya (seperti Saya yang sering lupa)
  • Botol minum yang selalu tersedia untuk mencegah dehidrasi.
  • Bra menyusui lebih banyak.
  • Bantal menyusui, atau bisa diakali dengan bantal biasa yang empuk dan tidak terlalu tinggi. Kalau Saya selain dapat kado bantal menyusui Saya beli satu bantal peyang ukuran kecil untuk kepala bayi bagian tengah saja dan bantal bisa dikaitkan di tangan Saya (Beli di Matahari, mungkin untuk yang berminat bisa hunting ke sana)
  • Perbanyak baju berkancing dengan dan membeli nursing cover.

Saat pergi keluar barang Kita akan lebih banyak dibawa dibanding dengan biasanya, usahakan untuk menggunakan 2 tas bagi yang bepergian dengan mobil. 1 tas untuk perlengkapan yang wajib dibawa turun dari mobil, 1 tas lagi untuk barang-barang yang tidak harus selalu dibawa seperti pompa ASI, cadangan pakaian dalam, dan jangan lupa untuk membawa cooler bag jika harus bepergian dalam jangka waktu yang lama.

Kamar Bayi

Kamar bayi jika Kita membaca semua sumber yang ada pasti mengacu kepada satu kamar penuh dengan bayi dan khusus untuk bayi, bagi Saya kamar bayi ada 2. Saya memanfaatkan kamar lama Saya di rumah yang nantinya digunakan Kiland untuk menaruh beberapa barang Kiland seperti kasur, boks berisi perlengkapan mandi & kesehatan cadangan atau sisa kado, beberapa kado, lemari baju (Sudah sejak Kiland lahir Saya gunakan untuk menyimpan baju Kiland), stroller dan mainan yang masih belum bisa digunakan.

Di dalam kamar tidur Saya, ada 3 barang ampuh yang Saya gunakan sampai kira-kira usia Kiland 6 bulan bahkan ada yang masih Saya gunakan sampai sekarang :

  • Kelambu; Awal Kiland pulang dari rumah sakit ke rumah mertua sampai pulang ke rumah sendiri, Kiland masih tidur dengan kelambu dikasur bersama Saya. Setelah itu, Kami mendapat kado dari Kakak ipar kelambu yang lebih besar sampai menutupi kasur yang akhirnya masih Saya gunakan sampai sekarang. Kiland sendiri masih tidur bareng satu kasur dengan Saya dan Suami sampai kira-kira usianya 3/4 bulan.
  • Baby Box; Walaupun Kami telat membeli baby box, ternyata baby box fungsinya banyak sekali. Saya terbiasa menaruh Kiland di baby box kalau ada yang ingin dikerjakan, tetapi sejak usia 7 bulan Kiland sudah mulai berdiri dan lama kelamaan menginjak bantal untuk melihat keluar  box Saya menyimpan baby boxkarena khawatir bisa “terjun” dari dalam box. Dalam memilih baby box sesuaikan dengan kebutuhan dan juga dana yang tersedia, tidak wajib hukumnya memiliki baby box, Kiland juga pernah membeli baby box portable yang bisa dibawa kemana saja dan selama hampir 6 bulan digunakan di mobil kalau bepergian cukup jauh, baby box portable ini Saya beli di Matahari tetapi sekarang sudah banyak sekali yang dijual secara online.
  • Rak susun; Karena pakaian yang digunakan masih kecil ukurannya, Saya menggunakan rak susun 4 yang isinya pakaian, gurita (hanya digunakan sampai menjelang 2 bulan, selebihnya bergantung dari Kiland kadang menolak dipakaikan gurita), kaos kaki, bedong (sudah tidak menggunakan bedong diusia 2 bulan karena berontak, hanya digunakan untuk alas tidur), selimut, dan perlengkapan lainnya. Rak susun sangat bermanfaat terutama bagi Ibu-Ibu yang sudah memiliki rak susun sebelumnya tinggal dikosongkan saja dan bisa digunakan selama beberapa bulan untuk menghemat pengeluaran.

Biasanya Ibu-Ibu disana memiliki changing table yang digunakan untuk mengganti popok atau memakaikan pakaian bayi setelah bayi. Kalau Saya memanfaatkan lemari pendek yang hanya setinggi pinggang Saya, Saya beri alas empuk & perlak kemudian jadi lah changing table mendadak, atau kadang Saya meletakkan Kiland di kasur saja. Bagi Saya changing table kurang memiliki fungsi, jika Kita memerlukan tempat untuk meletakkan perlengkapan bayi setelah mandi Kita bisa memanfaatkan ruangan lain dirumah, dan untuk tempat popok Saya membeli tempat popok gantung dari IKEA yang Saya gantung digagang pintu lemari pakaian Saya. 3 hal tsb adalah 3 perlengkapan bayi esensial menurut Saya, perlengkapan lainnya seperti perlak, bak mandi dan yang lainnya akan Saya bahas di postingan selanjutnya agar tidak terlalu panjang. 

Jika ada yang membutuhkan foto ruangan dsb, bisa di email ke Saya : anggarini.kiland@yahoo.com atau membutuhkan info lainnya, semoga bisa membantu.

Have a nice day!

Kiland Road to 1 Year : Persiapan menuju kelahiran

Melahirkan merupakan hal yang paling ditunggu untuk semua calon Ibu, semua rasa tercampur didalamnya termasuk Saya yang merasakan rasa takut, senang, dan tidak sabar menjadi satu. Bagi Saya kehamilan pertama ini sungguh luar biasa, kenapa? Karena Saya tidak menyangka akan sekuat ini. Awal-awal kehamilan Saya masih harus tidur diatas matras rumah sakit selama hampir 4 bulan, Saya mulai dinyatakan hamil di pertengahan bulan Juni dan masih harus menunggu Mama Saya di ICU sampai beliau meninggal dunia di pertengahan September. Selama itulah Saya tidur di ruang tunggu dengan Suami, terkadang menyewa hotel rumah sakit dan kadang juga kalau pengeluaran Kami sudah banyak dan Saya tidak kuat tidur di bawah, Saya ‘mengungsi’ ke rumah Om.
Tidak berhenti, setelah Mama Saya meninggal dunia Saya masih mengurus banyak hal yang berhubungan dengan Mama. Dari situ Saya sempat di rawat, Alhamdulillahnya bayi di dalam perut Saya sangat kuat. Semua kembali ke mindset  Kita, dan hasilnya sekarang bayi bulat Saya agak tahan banting. Saya bukannya mau memaksakan anak untuk kuat atau bagaimana, tapi memang Anak Saya terbentuk seperti itu, mungkin terdengar kasar tapi kuat maksud Saya disini adalah Dia tidak mudah merengek, hanya sebatas manja-manja kecil saja dan mungkin juga satu kuncinya, saat Saya merasakan senang atau sedih Saya sering memeluk bayi bulat Saya. Pelukan itu bagi Saya adalah obat dari segala macam penyakit.

Kembali kepada topik, kali ini Saya akan memposting keperluan melahirkan sebagai bentuk syukur hampir 1 tahun menjadi seorang Mama Kiland. Saya termasuk orang yang suka membaca blog tentang persiapan melahirkan jadi semoga saja postingan Saya ini bermanfaat untuk Ibu-Ibu diluar sana yang sedang menunggu kelahiran atau sedang di masa kehamilan.

Biaya Melahirkan

Hal pertama yang harus dipersiapkan tentunya adalah biaya baik melahirkan di rumah sakit mau pun bidan atau rumah. Jika sudah direncakan sejak awal menikah ada baiknya juga memasukkan uang Kita di tabungan-tabungan berjangka yang ada di bank. Kalau Saya sendiri memasukkannya di Tabungan Rencana Mandiri, biasanya nominal bisa Kita ubah asalkan tidak dibawah nominal. Jadi misalkan sejak awal menikah Kita ingin menabung untuk biaya melahirkan kelak bisa Kita mulai dari nominal kecil, setelah Kita sudah diketahui hamil biayanya bisa ditambah.

Tabungan dengan jenis seperti ini bisa membuat Kita disiplin dalam menabung karena setiap bulan langsung di debit dari rekening. Jumlahnya pun bisa disesuaikan dengan kemampuan termasuk juga jangka waktu menabungnya, jika waktu menabungnya lewat dari waktu kelahiran biaya tsb bisa digunakan untuk mengganti biaya melahirkan. Bagaimana pun caranya perlu dipisahkan antara kebutuhan sehari-hari dengan kebutuhan selama kehamilan sampai melahirkan.

Perlengkapan Bayi

Kebutuhan lainnya yang tidak kalah penting tetapi menarik untuk dilakukan adalah mengumpulkan perlengkapan bayi, sebelum mulai berbelanja yang harus dilakukan adalah “kepo” dengan segala media baik itu memanfaatkan google, social media, bertanya atau membaca majalah/buku intinya adalah mendapatkan gambaran barang-barang kebutuhan bayi. Tidak hanya mencari tau apa saja yang dibutuhkan tetapi mencari tau juga dibeli dimana, survey harga dan juga merk.

Saya akan memberikan rincian barang yang terpakai selama satu tahun ini, tentunya Saya hanya mencantumkan barang-barang yang dipakai saja sesuai dengan kondisi selama satu tahun ini. Kondisi selama satu tahun ini adalah selama hampir 11 bulan Saya tidak ada ART, di minggu pertama setelah melahirkan sampai kira-kira 10 hari Saya dirumah mertua belajar memandikan dan merawat bayi sekaligus memulihkan kondisi. Setelah itu Saya survive di rumah, survive disini Saya tidak mengatakan Saya bisa melakukan semuanya tanpa cela atau tanpa pertolongan, malah Saya kecolongan dan sampai sekarang Anak Saya masuk sufor. Tidak buruk karena apa pun yang diciptakan pasti memiliki manfaat, selama anak Saya baik-baik saja Saya mengesampingkan judgement dari orang banyak. Di rumah pun Saya masak sendiri dan kadang dibantu Suami dengan supervisi penuh Saya dari depan pintu dapur & hanya di 5 hari pertama pulang Tante Saya membantu, selebihnya keinginan Saya yang ingin mencoba sendiri.

Kondisi lainnya adalah bayi Saya tongue tie dan sulit untuk menyusu dengan Saya sehingga harus di insisi, padahal bisa saja tidak di insisi, tetapi yah sudah…semua menjadi pelajaran. Bayi Saya aktif, beberapa kemampuan motorik kasarnya berkembang cukup cepat tetapi ada juga beberapa kemampuan motorik kasar yang tidak sempurna, kalau kata Mba Ratih, Psikolog tercihuy Saya, Bu Bos dan Teman sharing Saya “kurang puas” pada satu fase yang mempengaruhi fase berikutnya sehingga ada beberapa hal yang harus dikondisikan.

Kembali kepada perlengkapan bayi, berikut list perlengkapan yang Saya gunakan :

Selama di rumah sakit :

  • Pompa ASI : Ternyata sangat penting terutama bagi bayi-bayi yang kondisinya sulit untuk dibangunkan diawal-awal kelahiran, Kita harus memancing ASI untuk keluar dengan memompa ASI selama selang 2 jam. Waktu di rumah sakit Saya sampai bergantian dengan Suami memompa ASI, kadang kalau Saya sudah ngantuk Suami yang pegang corong pumping dan Saya tidur. Pompa ASI juga sangat berguna untuk Ibu-Ibu yang belum bisa memerah ASI secara manual.
  • Gelas kaca, softcup : Gelas kaca berfungsi untuk menyimpan ASI tentunya selama Kita masih dirumah sakit dan softcup untuk memberikan ASI kepada bayi.
  • Maternity Pad : Penyelamat selama 40 hari masa nifas, bawa secukupnya karena biasanya di rumah sakit tersedia juga.
  • Pakaian dalam termasuk bra menyusui dan juga breast pad. Breast pad bisa dibeli menyusul tergantung dari jumlah ASI, fungsinya hanya untuk mencegah ASI rembes.
  • Pakaian untuk pulang usahakan yang berkancing untuk mempermudah menyusui. Pakaian selama di rumah sakit umumnya disediakan oleh rumah sakit.
  • Botol minum : Berguna agar tidak kesusahan untuk minum karena Ibu menyusui wajib untuk banyak minum air putih
  • Untuk yang memakai jilbab, jilbab instan dan pashmina menjadi penyelamat
  • Sandal yang nyaman & kaos kaki
  • Perlengkapan mandi baik untuk wajah, badan, rambut harus aman untuk Ibu hamil. Lotion untuk stretchmark dan untuk tubuh agar tidak kering. 
  • Perlengkapan kesehatan; saat itu Saya gunakan betadine untuk membersihkan bekas-bekas melahirkan tetapi setelah ke rumah betadine Saya ganti dengan rebusan daun sirih.
  • Buku bacaan atau yang sudah menggunakaan ebook bisa juga membawa ipad/tab lumayan untuk mengusir kebosanan atau bisa juga mempada ipod, jauh-jauh hari masukkan lagu-lagu kesukaan Kita sebagai mood booster saat pumping. Saya tidak menggunakan ipod saat menyusui karena Saya lebih suka melihat wajah anak sebagai mood booster.
  • Bantal kecil atau apa pun yang membuat Kita nyaman saat tidur.
  • Baju bayi, popok kain, gurita, sarung tangan dan kaki, selimut bayi disesuaikan dengan perkiraan hari dirawat.
  • Gendongan bayi/stroller, keduanya sama saja apapun yang membuat nyaman tetapi Saya lebih rekomen menggunakan gendongan bayi.
  • Perlengkapan kebersihan bayi biasanya diberikan oleh rumah sakit termasuk perlengkapan kesehatannya.

Beberapa Ibu mungkin kondisinya berbeda, kalau dengan kondisi Saya daftar diatas itu adalah daftar perlengkapan yang terpakai di rumah sakit. Khusus untuk melahirkan secara caesar Saya sama sekali tidak ada gambaran karena pasti kebutuhannya akan berbeda lagi. Selanjutnya nanti Saya akan memposting kebutuhan bayi selama 1 tahun pertama, tentunya Saya jabarkan dengan versi Saya selama 1 tahun. 

Semoga postingan ini membantu dan menambah referensi Ibu-Ibu diluar sana, intinya adalah pikirkan terlebih dahulu kondisi Kita dan bayangkan akan melahirkan dimana, dengan normal atau ada kemungkinan caesar serta perbanyak membaca blog/majalah/buku/web/forum tentang melahirkan atau mempersiapkan kelahiran. Saya sendiri ada 1 buku yang Saya jadikan pedoman selama mencari perlengkapan bayi, tidak semua Saya ikuti karena semua bergantung dari hati nurani dan tentunya kondisi.

Have a nice day !