The Luxton Hotel Cirebon

Pertengahan Januari ini tiba-tiba ada ide mendadak Kami sekeluarga (dengan Mertua, Adik Ipar, dan Sahabat Saya) pergi ke Cirebon. Rencana awal mau tidur di rumah saja tetapi tidak muat karena memang belum selesai di bangun. Saya kemudian cari-cari hotel yang tidak terlalu jauh dari tempat-tempat yang Saya tuju dan masih terjangkau juga jaraknya dari rumah.

Saya melakukan pemesanan melalui telepon, dan selama proses pemesanan tersebut Saya cukup puas karena staff yang melayani sopan dan informatif, begitu pula saat Saya sudah sampai disana dan melakukan proses check in. Nilai Saya A untuk situasi lobi, staff baik itu petugas keamanan, sampai ke resepsionis. Semuanya berjalan baik dan Saya sangat puas sampai Saya menemukan beberapa hal, bukan hal besar tetapi tidak enak dilihat.

Untuk ukuran hotel yang cukup besar seharusnya staf bisa lebih teliti lagi. Saya menemukan kantong plastik kosong diselipkan di kotak tempat kopi, teh dan gula serta menemukan satu buah jus kadaluarsa berbentuk gelas plastik di kulkas kamar Saya. Selain kecerobohan tersebut salah satu hal yang menurut Saya kurang diperhatikan adalah minimnya gantungan di dalam kamar mandi.

Tapi selain kekurangan tersebut, secara keseluruhan fasilitas hotel bisa dikatakan cukup memuaskan. Kamar pun sebenarnya cukup nyaman untuk ditempati. Saya memesan kamar tipe deluxe dengan connecting door, Saya tidak tambah kasur dan tidak menggunakan baby cot. Jadi, Kami kondisikan sendiri saja 6 orang dewasa dan 1 bayi, Kami hanya menambah sarapan untuk 2 orang dewasa selama 2 hari.

Berikut adalah foto-foto dari kamar yang Saya pesan :


Maafkan untuk barang-barang yang eksis ikut foto 😅😅😅😅😅 dan ini view dari kolam renang dan tempat bermain anak.

Catatan untuk tempat bermain anak, ruangannya sangat dingin tapi Kita bisa minta sesuaikan suhunya dan untuk anak-anak yang masuk harus menggunakan kaos kaki. Jika Kita tidak membawa dan malas untuk ambil ke kamar, disana juga disediakan dengan membayar Rp 10.000. Untuk dewasa yang ikut masuk tidak harus menggunakan kaos kaki.


Saya secara pribadi masih ingin kembali ke hotel tersebut jika memang ada kesempatan untuk mencoba kamar lainny. Nilai tambah hotel bagi Saya adalah kolam renang dan keramahan stafnya, walaupun ada beberapa kekurangan dan kalau dilihat untuk ukuran kamar deluxe harganya cukup tinggi namun standart jika melihat nama Luxton itu sendiri.

Advertisements

Ikeania Part 2

SELAMAT TAHUN BARU !!!

Walaupun telat karena hari ini sudah pertengahan Januari, tapi semangat tahun baru pasti masih ada kan?

Masih sama dengan postingan sebelumnya tetapi kali ini Saya akan menjelaskan produk IKEA yang ada di dalam kitchen set dan ruang makan. Semua produk-produk IKEA bisa dilihat lebih lengkap di http://www.ikea.co.id. Foto-foto ini di bawah ini langsung Saya ambil dari web IKEA Indonesia karena dapur masih belum fix penempatannya dan masih ada tukang juga yang sering mondar-mandir jadi dapur masih belum bisa di bilang rapi.

 

Box diatas Saya gunakan untuk perlengkapan kebersihan yang masih belum dipakai seperti cadangan sabun-sabun, sikat, spons, dll. Saya letakkan di box agar tidak berantakan dan memang belum ada tempat lagi untuk meletakkan barang-barang tsb, kalau nanti laundry corner sudah selesai (soon…entah kapan) mungkin box ini akan berpindah tempat dan beralih fungsi.

Tempat piring yang Saya gunakan saat ini cuma 2, untuk meletakkan piring-piring kue di dalam lemari tujuannya supaya enak dilihat saja karena jumlah piring kue Saya agak lumayan. Saya berencana untuk beli lagi untuk piring-piring yang besar. Tempat piring ini bisa disesuaikan diameternya dan ada 2 jenis, batas diameter bergantung dari ukuran apa yang Kita pilih.

Tempat diatas sebenarnya berfungsi untuk meniriskan buah setelah dicuci atau cucian piring, tetapi Saya gunakan untuk menaruh bawang bombay dan alat tempur dapur lainnya karena bak cuci piring Saya tidak terlalu besar.

Handuk kecil di atas tidak terlalu penting memang, karena Saya terlalu iseng untuk bebelian jadi Saya beli beberapa satunya di dapur satu lagi Saya letakan di dekat meja makan.

Bak sampah menjadi elemen terpenting di dalam dapur Saya. Dapur mini Saya dulu punya 1 tempat sampah besar yang ada di dekat bak cuci piring dan memang sudah ada disana sejak Saya kecil tapi akhirnya Saya ganti dengan bak sampah tarik ini karena tidak mengganggu mobilitas dan tidak terlihat sehingga baunya (jika ada) tidak tercium.

Rak tarik ini Saya gunakan untuk meletakkan plastik-plastik sampah supaya tidak berserakan, ini karena tempat sampah di rumah ukurannya berbeda-beda jadi harus ada beberapa jenis liter plastik sampah di rumah.

Tempat plastik ini Saya punya keduanya, bermanfaat sekali untuk plastik-plastik belanjaan dan paper bag yang masih ingin digunakan agar tidak berantakan. 

Karosel ini Saya letakkan di pojok kanan dapur yang berbentuk L. Ada 2 pilihan karosel, yang pertama hanya memutar di dalam kitchen set seperti gambar diatas yang kedua bisa ditarik keluar dari kitchen set. Saya gunakan yang hanya memutar di dalam kitchen set karena keterbatasan ruangan.

Klip pastik ini biasanya Saya gunakan untuk makanan-makanan atau kerupuk tapi tidak terlalu berfungsi juga karena Saya biasa langsung semua masuk tupperware (maklum….membeli dagangan sendiri jadi koleksinya terlalu banyak dan sayang kalau tidak digunakan)

Plastik ini Saya punya ke enamnya, 2 warna hijau, 2 warna ungu, dan 2 biru. Semua ukurannya berbeda-beda tapi sejak awal anak Saya makan, Saya gunakan plastik ini untuk pisah-pisah makanannya dan juga daging Saya pisah lagi. Untuk ukuran yang paling besar, Saya biasa gunakan untuk pakaian saat keluar kota supaya ringkes karena bayi Saya ini keliwat aktif jadi semua harus serba cepat.

Ada beberapa barang IKEA lain yang tidak Saya masukkan seperti pisau, alat peniris, keset, dan tempat minum bayi. Saya tidak masukkan karena menurut Saya tidak benar-benar penting, Saya belinya juga tidak sengaja dan latah aja lebih tepatnya karena lucu-lucu.

Setelah dapur Saya mungkin akan mereview random saja tentang barang-barang dari Ikea lainnya karena masih ada juga beberapa yang belum terpasang sama Pak Suami dan memang masih masih dalam jadwal beli, menunggu transferan dan waktu juga. Hey Pak Suami, semoga baca ya postingan ini hehe… Namanya juga Istri merangkap segalanya.

Selamat berakhir pekan.

Ikeania Part 1 

Why Ikeania? Postingan ini sengaja Saya beri judul Ikeania sebagai sebutan untuk Mereka yang suka jalan-jalan ke Ikea, sekedar cuci mata atau mencari beberapa barang yang bisa dibilang agak kreatif dari segi bentuk dan manfaat atau membuka jasa titip, like i was. Saya dulu membuka jasa titip IKEA selama beberapa bulan, hal ini dimulai dari Saya yang kembali gemar jalan-jalan setelah bayi bulat Saya bisa dibawa keluar.

Kegemaran Saya akan IKEA lagi-lagi bermula dari Mba Ratih, my all time favourite child psychologist, yang mengajak Saya ke IKEA Malaysia pada waktu itu. Awalnya Saya hanya melihat-lihat, tapi kemudian kalap juga karena ada saja barang yang menarik perhatian Saya.

Kegemaran itu berlanjut ketika IKEA membuka tokonya di Alam Sutra, dari awalnya Saya hanya penasaran sampai memenuhi rumah dengan barang-barang IKEA. Mengenai jasa titip, saat ini Saya sudah tidak menjalankannya lagi karena bentrok dengan beberapa kegiatan dan entah kenapa jalanan akhir-akhir ini agak terlalu macetnya.

Why Ikeania part 1?

Pada postingan Saya ini Saya akan membahas tentang beberapa barang IKEA yang sudah Saya gunakan, bisa dikatakan Saya akan mereview beberapa barang sebagai gambaran kepada Ikeania yang lain jika ingin membeli baik itu menggunakan jasa titip atau berkunjung sendiri ke IKEA. Karena banyaknya barang IKEA yang Saya gunakan Saya akan membagi ke dalam beberapa postingan berdasarkan letaknya di rumah Saya.

Kali ini Saya akan mulai dari dapur, tempat dimana banyak sekali barang IKEA yang Saya gunakan karena memang dapur Saya sedang di rombak pada beberapa bagian dan sampai saat ini masih dalam tahap ‘menabung’ sampain nanti terpenuhi dapur yang sesuai dengan apa yang Saya mau.

Didalam 1 gambar ini ada banyak sekali produk dari IKEA yang Saya gunakan, satu persatu dan Saya jelaskan fungsinya

Foto diatas adalah foto bagian dapur yang agak bertumpuk-tumpuk dan bisa dibilang berantakan karena Saya belum bisa memaksimalkan dengan baik dapur Saya, masih banyak juga barang peninggalan Almarhumah Mama yang rasanya masih bisa digunakan. Jadi, sebisa mungkin Saya meletakkan barang-barang yang masih bisa digunakan dipadukan dengan barang-barang baru dan diatur agak mudah diambil karena memiliki bayi itu semua harus serba cepat.

Berikut rincian dari barang-barang IKEA yang ada diatas :

Tempat bumbu (Fintorp)

Tempat bumbu ini sebenarnya bisa difungsikan untuk apa saja dan penempatannya tidak harus digantung. Kalau Saya memilih tempat bumbu ini untuk meletakkan teko teh dan kecap, kadang Saya juga meletakkan pulpen jika sedang utak-atik resep makanan tapi sebenarnya Kita bisa menggunakan tempat bumbu ini di berbagai tempat bahkan untuk tanaman.

Sikat ini Saya gunakan untuk sikat bak cuci piring


Gunting ini cukup tajam, awalnya Saya cuma punya 3 pcs (1x beli dapat 3) tapi karena dapur dan meja Pak Suami jadi tempat rebutan gunting Saya jadi punya 1 set lagi dan tiap gunting diberi label penempatan agar tidak sembarangan diletakkan karena termasuk benda berbahaya jika diletakkan sembarangan


Talenan isi 2 ini Saya gunakan untuk memasak makanan Baby K, sengaja Saya pisahkan sampai kira-kira 1 tahun dimana nanti dia akan memulai makan makanan rumah sederhana sesuai apa yang Saya masak


Tempat ini juga cukup serbaguna bisa digunakan dimana saja & ada 2 ukuran berbeda tinggi


Tempat tisu roll sebenarnya ada 2 yang satunya berbahan kayu, Saya lebih memilih yang seperti ini karena lebih ringan & lebih murah. Tetapi kembali ke pilihan dan fungsi, jika fungsinya untuk diletakkan di meja makan tentunya yang terbuat dari kayu lebih menarik

Barang-barang lainnya yang juga ada di dapur :

Lemari adalah produk IKEA yang menurut Saya cukup berguna. Kenapa Saya beli di IKEA? Meminimalisir keluar, Saya beli ini sekaligus beli barang-barang lain yang memang cuma ada di IKEA. Harganya memang kurang terjangkau tapi yang Saya suka bentuknya simple dan setelah pemasangan bau dari kayu tidak terlalu menyengat


Rel tempat oven, Saya beli 2 untuk oven dan microwave. Kenapa Saya gantung? Dapur Saya kecil, jadi area dinding harus dimanfaatkan. Saya sendiri tidak menggunakan kitchen set bagian atas dimana biasanya ada tempat untuk oven karena menghalangi pemandangan dan terlihat semakin sempit kalau dinding Saya pasang lemari juga seperti dapur Saya sebelumnya.


Rak bumbu & toples bumbunya. Toples bumbu Saya beli 1 set isi 4 buah. Rak bumbunya gampang dirakit tetapi memang harus pakai bor.


Rak susun ini juga bisa digunakan dimana saja, fungsinya menambah ruang penyimpanan. Fotonya harus diblur karena masih berantakan dan secara bertahap Saya nanti mau membuat coffee corner diluar dapur jadi sementara Saya letakkan di rak yang kosong

Selain beberapa barang di atas, ada juga yang Saya letakkan di dalam kitchen set. Akan Saya share di postingan Saya selanjutnya. Intinya semua pemasangan produk IKEA cukup mudah, tetapi memang perlu di bor agar lebih kuat, dan pada beberapa produk IKEA tidak menyediakan pelengkap seperti paku, dll tapi IKEA selalu memasukkan instruksi pemasangan. Semua barang yang ada di dapur dipasang oleh Pak Suami termasuk merakit lemari.

To be continue : IKEANIA PART 2.

Mercure Hotel (Karawang) A short trip with the Kiland’s

3 bulan sudah sejak postingan terakhir walaupun ada beberapa postingan yang masih kesimpen di draft, tapi entah kenapa tiba2 ingin merealisasikan ide yang tercetus sejak lama dengan Pak Suami.

Sudah menjadi rahasia umum dikalangan teman-teman & keluarga kalau Saya ini paling nggak bisa diem di rumah. Kalau ada waktu Saya maunya jalan-jalan aja setiap hari. Saat ini mungkin ada beberapa kendalanya seperti kondisi rumah yang masih saja di tahap renovasi sana-sini. Demi meneruskan cita-cita Almh. Mama Saya dengan ide rombak rumahnya yang akhirnya tidak bisa dilakukan oleh beliau sendiri.

Tapi sekitar pertengahan November 2016 Saya dan Pak Suami + Baby K ada kesempatan untuk liburan walaupun cuma 1 malam yang dibarengi dengan ke makam Mama & Papa.

Sebelum berangkat Saya melakukan reservasi hotel. Pak Suami menyarankan untuk melakukan reservasi di Mercure Karawang karena letaknya tidak begitu jauh dari makam & rumah Kakak Ipar Saya, dan kebetulan pula Saya sudah pernah menginap di hotel ini lebaran tahun lalu.

Satu kendala Saya yaitu kesulitan memandikan bayi. Saya boleh dikatakan takut untuk memandikan bayi Saya dengan cara-cara unik, apalagi bayi Saya masih di bawah 1 tahun. Setelah melihat-lihat di web milik Mercure Karawang, Saya memutuskan untuk mengambil kamar suite. Lebih mahal memang dibandingkan dengan kamar Deluxe yang Saya pesan saat lebaran, tetapi mengingat Saya ingin sekali anak nyaman tidak ada salahnya sekali-kali memesan kamar suite terlebih Adik Ipar Saya juga ikut pasti akan lebih nyaman jika ruangannya lebih besar.

Ohya, sebagai tambahan kebetulan Saya hobi untuk membandingkan harga hotel karena beberapa kali sering Saya lakukan saat kerja (Thanks to Ibu Psikolog kesayangan Mba Ratih Zulhaqqi) jadi sekarang Saya kebiasaan untuk cek harga mana yang paling pas untuk di rumah. Kebiasaan sederhana tapi bisa sangat bermanfaat.

Kembali ke hotel, kamar Saya terletak di lantai 10, cukup tinggi dan kalau malam hari ada nilai tambahan yaitu hiasan lampu-lampu dari arah bundaran depan hotel yang terlihat jelas. Kamar Saya tidak terlalu jauh dari lift kebetulan jadi cukup mudah aksesnya untuk ke lift walaupun jika Saya mendapatkan kamar diujung aksesnya juga tidak terlalu sulit.

Well, mari Kita lanjut ke dalam kamar. Begitu membuka pintu Kita melihat ruang tamu dengan tv, sofa, dan meja kerja. Tapi sebelum sampai kesana Kita akan menemui toilet di sebelah kiri dan lemari baju serta tempat sepatu dikanan. Menariknya lemari baju terhubung dengan kamar mandi (akan Saya share nanti foto-fotonya) Jadi, buat yang sedang mandi tidak boleh lupa untuk cek pintu lemari ya hehehe… Kemudian maju sedikit ke arah sofa disebelah kiri ada connecting door yang tentunya tidak difungsikan untuk Saya yang hanya menyewa 1 kamar dan ada mini bar, mesin pembuat kopi, kopi, teh dan beberapa perlengkapan mini bar standart lainnya. Namun sayang, ada 2 nilai kurang memuaskan bagi Saya yang travelling dengan bayi yang sudah mulai makan, yaitu hotel menggunakan air mineral yang ada rasanya padahal setau Saya air tersebut kurang baik untuk dikonsumsi dan mini bar yang sulit untuk menyimpan makanan beku karena bukan kulkas sehingga Saya harus menitipkan makanan beku di restaurant hotel.

Kembali kepada ruangan lainnya, kalau tadi Kita bahas sisi kiri dari ruangan sekarang kalau Kita berjalan mengarah ke kanan ada pintu lagi yang menghubungkan dengan kasur dan juga kamar mandi. Nilai tambahan lagi di depan kasur ada tv, buat Saya kemarin tv kamar dijajah oleh Suami sedangkan tv luar di jajah Adik Ipar. Kasur yang disediakan cukup besar, Saya bisa tidur bertiga tanpa digeser-geser bayi Saya yang kalau tidur pasti muter-muter.

No picture, hoax? No problem, Saya akan lampirkan foto-foto kamar Saya semoga bisa membantu memvisualisasikan bentuk kamar di pikiran Anda.



Semoga review tadi bisa jadi bahan pertimbangan bagi Mama dan Papa yang mau travelling dengan babynya. Next semoga Saya bisa mereview tempat-tempat lain karena dari review-review itu lah Saya belajar juga, rasanya terus belajar dan berbagi itu bisa menumbuhkan rasa percaya diri Kita untuk menjadi Mama yang lebih baik lagi untuk keluarga.

Happy Holiday !

Happy 6 mo : Hore Kiland MAKAN!

Makan! 

6 bulan memang (menurut berbagai sumber) merupakan saat yang tepat bagi seorang anak untuk memulai ‘mengenal’ rasa. Disini, Saya hanya mencoba untuk share persiapan menuju hari ini, hari pertama baby bulat Saya memulai makanan pertamanya.

Sudah sejak memasuki bulan ke-5, Saya memaksa diri untuk mulai kembali budaya membaca. Sejak itu Saya mulai searching-searching baik itu di WEB, Instagram & toko buku. Saya tidak sendirian, Pak Suami yang pernah melihat contoh pemberian makan pada bayi yang kurang baik juga sering Saya ganggu dengan link-link bahan bacaan yang Alhamdulillahnya dibaca juga. Pak Suami juga berkomitmen untuk ‘balas dendam’ memberikan makanan yang sesuai karena permasalahan si ASI kemarin dan banyaknya Ibu-Ibu diluar sana yang hanya berbekal ‘yang penting kuah’ dan ‘yang penting makannya mau & cepat’ dan Pak Suami melihatnya langsung, hampir setiap hari.

Pencarian Saya dimulai dari instagram, Saya mulai mencari-cari dengan hashtag mpasi, makanan bayi, mpasibayi dan sejenisnya. Kemudian Saya menemukan beberapa instagram Ibu baru yang memang sudah mulai melakukan MPASI. Saya ikuti dan mulai ‘membedah’ instagramnya.

Berlanjut dari instagram Saya beralih ke WEB, Saya mulai mencari situs-situs yang berhubungan dengan makanan bayi, tumbuh kembang bayi, dan bagaimana cara memberikan makanan bayi. Setelah selesai browsing Saya tetap menuju toko buku, karena buku itu sudah menjadi bagian hidup Saya walaupun teknologi saat ini sudah cukup canggih.

Singkat cerita dari keseluruhan sumber yang Saya pelajari, nilai pentingnya adalah komitmen Kita, orang tua untuk memberikan yang terbaik, tidak terlambat, dan konsisten untuk memakan makanan yang sehat. Tidak hanya untuk Anak tetapi untuk Kita sendiri, karena anak-anak akan melakukan apa yang Kita lakukan. Contohkan yang terbaik, berikan yang terbaik agar anak-anak Kita nanti tidak mengulang kesalahan-kesalahan yang sudah Kita lakukan sebelumnya.

Kembali kepada proses makan Kiland,Saya mulai-mulai mencari ‘alat perang’yang mungkin nanti akan Saya bahas di post selanjutnya, sampai mendekati hari H, Saya menetapkan beberapa hal yang sebisa mungkin akan Saya lakukan :

1. Saya dan Suami yang tadinya makan secara bergantian karena menjaga Kiland, memutuskan untuk makan di waktu yang sama dengan Kiland. Jika tidak sama dengan Kiland pun saat Kami makan Kami mendudukan Kiland di samping Kami. KENAPA? Karena Saya mau mengajarkan Kiland untuk memakan di meja makan demi kesehatannya sendiri dan mengenalkan jam-jam makan.

2. Mendudukan Kiland di highchair. KENAPA? Karena Saya mau Kiland belajar untuk makan dengan posisi duduk, makan sambil berjalan-jalan dalam bentuk apa pun tidak baik untuk bayi walaupun dengan alasan “Supaya anaknya mau makan” dan mengusahakan waktu makan tidak terlalu lam. Bagi Kita juga cukup menguras tenaga jika anak harus makan keluar, sambil jalan dan makan sangat lama.

3. Memulai dengan puree buah. Apa pun yang Kita berikan kepada bayi disaat masa makan pertamanya adalah pilihan Kita, para orangtua. Saya dan Pak Suami memilih buah sebagai makanan pertamanya.

4. Disiplin mencatat apa yang Kiland makan dan apa pengaruh yang muncul. Hal ini penting untuk mengetahui apakah makanan yang dimakan cocok atau tidak dengan si bayi.

5. Berusaha untuk memenuhi makan Kiland dengan fresh food paling tidak di tahun pertamanya.
Semua hal diatas dilakukan dengan Bismillah dan berharap lingkungan mendukung proses ‘balas dendam’ Saya membuat Kiland lebih sehat. Kita boleh banyak membaca, bertanya untuk menambah apa yang sudah kita tahu, tapi kembali lagi Kita harus bertanya kepada naluri diri sendiri untuk menentukan pilihan.

Selamat 6 bulan kesayangan Mama-Papa.

Akhirnyaa….

Perjalanan Saya mencari DSA untuk Kiland akhirnya berujung manis. Proses mendapatkan DSA yang sesuai bak mencari pasangan hidup diantara banyaknya manusia yang Kita kenal. Kadang cocok dengan satu faktor tapi faktor yang lainnya tidak, seperti cocok di isi kantong tetapi tidak cocok di hati Saya, seorang Ibu.

Di awal-awal pasca melahirkan, pertama kali sekali Saya memang kurang sreg dengan dokter anak di rumah sakit tsb. Dokternya baik banget tapi tetap saja hati kurang sreg, dan sepertinya Ibu Mertua pun sependapat dengan Saya. Kemudian sesuai dengan rekomendasi, Saya mencoba ke dokter lain yang cukup terkenal. Memang terlihat sangat mumpuni dan baik, tapi lagi-lagi hati berkata lain.

Akhirnyaaaa…. Saya coba untuk ke RS Sam Marie di Pondok Bambu yang kebetulan dekat dengan rumah Mertua & dari rumah juga cukup terjangkau. Setelah tanya-tanya dengan salah seorang teman yang kebetulan lokasi rumahnya juga tidak begitu jauh & pernah konsultasi dengan DSA di RS tsb, Saya diusulkan buat konsultasi ke dokter Cut Badriah.

Setelah pulang dari luar kota, Saya melakukan registrasi online Kiland untuk ke dokter Cut. Pihak RS 2x menghubungi Saya untuk konfirmasi, buat Saya cara seperti ini efektif walaupun mugkin agak sulit untuk dilakukan jika pasiennya cukup banyak. RS sebelumnya juga melakukan konfirmasi, tetapi melalui SMS dan sepertinya tidak ada koordinasi dari pihak poli yang menghubungi Saya dengan suster yang ada di poli, karena setelah konsul Saya menerima SMS kembali untuk melakukan konfirmasi padahal Saya sudah bersiap untuk pulang.

Kembali ke RS Sam Marie, bagi yang belum pernah ke RS ini situasi yang bisa Saya gambarkan adalah nyaman karena tidak terlalu ramai (bisa jadi karena Saya datang di weekday), bersih dan staffnya ramah. Kekurangannya lahan parkirnya sedikit dan AC yang terlalu dingin menurut Saya mungkin karena orangnya tidak banyak. Kalau harga, sedikit diatas rata-rata karena konsultasi per kunjungan Rp 200.000, bagi Saya angka tersebut lumayan agak mahal. Nilai plus lainnya, Saya diberikan voucher yang bisa ditukarkan snack disetiap kunjungannya.

Singkat punya cerita, akhirnya Saya ketemu dengan dokter yang diusulkan oleh teman Saya itu. Ruangan dokter Cut sepertinya memang didesain agar anak-anak nyaman. Tapi buat Saya, Ibu baru yang lagi berjuang berdua suami saja disaat rumah lagi proses “rapi-rapi” langsung ‘kerasan’ dengan dokter ini.

Begitu masuk ke dalam ruangan, tanpa melakukan hal lain dokter Cut memeriksa Kiland secara keseluruhan walaupun tujuan Saya saat itu melakukan imunisasi, mungkin seperti sudah semacam SOP. Dokter Cut atau mungkin beberapa dokter lain juga pasti ada yang serupa, tidak mau mengandalkan catatan di buku pedoman perkembangan anak yang sudah diisi oleh dokter-dokter sebelumnya.

Pemeriksaan seperti ini tidak Saya dapetkan di dokter-dokter sebelumnya & yang makin bikin saya ‘kerasan’, tanpa diminta dokter Cut langsung nulis nomor HPnya. Beberapa temen Saya pasti diberikan nomor HP dokter, tapi Saya nggak. Itu normal atau tidak ya? Intinya, terlepas dari apa pun hati nyaman dengan dokter ini.

Pencarian Saya akhirnya selesai. Saya tidak mengatakan dokter-dokter sebelumya tidak bagus, mereka yang sudah mendapat titel dokter pastinya sudah memiliki kualifikasi sendiri tinggal bagaimana kenyamanan dari sang pasien. Semua soal pilihan. Intinya, Saya sudah menetapkan pilihan dokter Cut sebagai DSA Kiland.

Semoga Kita bisa memberikan yang tepat untuk sang buah hati, tepat memang bukan berarti yang terbaik di mata orang lain bahkan diri sendiri. Tapi kadang yang tepat lama-lama akan menjadi yang terbaik kalau dilakukan dengan benar, semoga apa yang sudah diputuskan menjadi sebuah keputusan yang baik.

Comfort Zone

Setiap manusia memiliki zona nyamannya sendiri dalam segala situasi. Di rumah dengan tidak melakukan apa pun, di kantor saat jam makan siang memilih untuk berkumpul di kantin, sekolah saat Kita memilih untuk datang 5 menit sebelum bel sekolah, atau di jalanan saat zona nyaman Kita berada di jalur ketiga walaupun jalur kedua terlihat lebih lancar, saat bertengkar Kita memilih untuk pergi atau saat Kita memilih untuk diam dalam sebuah diskusi.

Sewaktu TK, zona nyaman Saya justru ada di mobil dan mendengar suara orang rumah (bahkan Mbak yang mengurus Saya). Nggak tau kenapa Saya nyaman didalam mobil sedan civic Mama Saya dengan menjajah bangku belakang dengan banyak bantal & boneka, dan nyaman saat mendengar semua orang rumah (Mama, Papa dan Mbak Saya) ada di rumah.

Ditengah-tengah masa SD, zona nyaman Saya adalah di rumah dan pikiran Saya menjadi lebih kompleks dengan menganggap kenyamanan yang lain adalah tidak berpikir persoalan matematika. Saya menghindari belajar matematika sendiri di rumah, dan sepertinya kebiasaan itu muncul terus sampai SMP.

Saat SMA, Saya mencoba keluar dari zona nyaman itu dengan bertekad masuk ke dalam jurusan IPA. Kita semua tahu seperti apa ajaibnya persoalan Fisika itu kan? dan saat itu Saya harus membawa beban “masuk kedokteran”, salah satu zona yang sangat tidak nyaman hanya karena Mama tidak bisa masuk kedokteran (saat itu tidak bisa membayar biaya masuk). Saya biasanya menghindari sebuah pemaksaan dengan memberontak keras atau diam. Tetapi saat itu Saya menurut dan menanamkan di pikiran bahwa Saya harus masuk FK.

Kebiasaan menghindari masalah (pada hal ini sebuah pemaksaan) dengan memberontak keras Saya coba untuk hilangkan. Biasanya setelah memberontak yang diakhiri dengan nangis, Saya diam sampai keinginan dituruti (Maafkan sifat anak tunggal ini muncul lagi, semoga Mama & Papa disana mengerti). Kali ini, Saya duduk dengan Mama & Papa, menenangkan diri dan Saya cuma bilang “Aku mau masuk Psikologi”.

Saat itu Saya kelas 2 SMA, dan cita-cita masuk jurusan Psikologi sudah Saya tulis di buku tahunan saat lulus SMP dulu.

Saat itu, Papa Saya berbicara cukup banyak. Saya sendiri kaget karena Kami memang tidak biasa berbicara banyak. Tapi, kadang Kami tau sendiri apa yang lawan bicara Kami rasakan, mungkin ini yang namanya ikatan batin (Oh I love you Dad).

Singkat cerita, Saya bisa mengambil jurusan Psikologi walaupun ditengah-tengah perjalanan Papa masih memaksa Saya untuk mengambil mata kuliah yang berhubungan dengan Psikologi Industri & Organisasi disaat Saya bersikeras mengambil mata kuliah yang berhubungan dengan psikologi anak & perkembangan. Tapi, akhirnya saat Saya wisuda Papa Saya tersenyum juga.

Kali ini, Saya kembali mencoba untuk keluar dari zona nyaman. Keluar dari rutinitas-rutinitas yang biasa dilakukan untuk sebuah zona nyaman baru yang harus Saya bentuk. Terkadang manusia memang membutuhkan sebuah perubahan dan pembelajaran yang bisa diambil dari kejadian yang sudah lewat dengan tidak mengulang lagi.

Tapi kali ini pilihan ini sangat sulit, seperti memilih mana yang akan Kalian selamatkan jika sedang berada diatas Titanic. Ibu hamil atau anak kecil?

Tapi akhirnya Saya mengambil sebuah keputusan besar (semoga tidak dibawah kendali emosi) dengan dituntun oleh Suami (tanpa paksaan & sepenuhnya memberikan beberapa pilihan sebelumnya). Semoga keputusan yang diambil tidak membuat Saya kehilangan orang-orang lagi walaupun kadang kehilangan itu ada baiknya juga.

Buat Saya keluar dari zona nyaman itu sebuah keharusan, apa pun bentuk dari zona nyaman itu. Semoga semua keputusan yang diambil membawa kebahagiaan.

Semoga siapa pun yang membaca tulisan ini, sedang kesulitan mengambil keputusan untuk tetap atau pergi dari zona nyaman (Atau jika tidak sedang merasakan hal serupa, semoga tulisan ini menjadi sebuah media pembelajaran atau hanya sekedar bacaan semata) bisa segera menemukan jawaban yang terbaik & selalu mengingat bahwa hidup tidak selalu harus menuruti kata hati orang lain dan untuk menjadi pribadi yang besar tidak harus memanfaatkan orang banyak. Kita membutuhkan orang lain untuk kegiatan saling memberi, karena di setiap pertemuan Kita pasti memberikan sesuatu kepada orang lain atau lawan bicara Kita. Misalkan saja sebuah nama atau sebuah rasa nyaman mungkin?