Children and Animal : Ragunan Zoo, A Short Family Trip (Part 2)

Setelah beberapa hari yang lalu Saya sedikit sharing tentang perlengkapan perang, kali ini Saya mau sharing tentang kondisi Ragunan Zoo (Kebun Binatang Ragunan Jakarta) saat Saya kunjungi di awal September lalu.

Seperti yang sudah Saya jelaskan sebelumnya, Saya datang agak siang tapi tidak sampai jam 10. Kondisi Ragunan sudah ramai, bahkan bis-bis sudah ada yang parkir, didalam pun saat Kami sekeluarga mulai masuk ternyata lebih ramai.

Dari beberapa jam kunjungan, Saya merangkum beberapa hal menarik dan mengecewakan selama berada disana.

Jakcard

Saat mobil masuk ke dalam pintu masuk, Kami ditanya apakah mempunyai Jakcard, karena Saya belum memiliki Jakcard Saya diberikan  Jakcard yang sudah ada saldonya sesuai dengan jumlah orang yang ada di mobil. Saya tidak ingat apakah ada sisanya atau tidak tapi nanti Jakcard itu akan di tap pada saat masuk ke dalamnya.

Kekurangannya bagi pengguna baru seperti Saya tidak ada selebaran atau informasi kegunaan dari Jakcard tersebut. Setelah saya googling ternyata Saya baru tahu kegunaan dari Jakcard memang untuk memudahkan bertransaksi di Ragunan Zoo. Untuk lebih jelasnya mengenai Jakcard bisa di klik link ini ya

https://ragunanzoo.jakarta.go.id/2016/09/pengunjung-sebagai-pemilik-kartu-jakcard/

Peta & Penunjuk Arah

Kita semua tahu, Ragunan merupakan Taman Margasatwa yang sangat luas. Saya sendiri nggak sanggup untuk datang ke semua tempatnya. Saya membayangkan saat baru masuk ke dalam Saya diberikan map seperti waktu berkunjung ke Sentosa Island. Saya juga kebingungan membaca petunjuk arah, misalkan waktu itu Saya ingin melihat harimau putih setelah mengikuti arah Saya ternyata kesasar dan tidak sampai ke tempat harimau putih.

Semoga bisa ada aplikasi yang memuat map dengan jelas atau semacam navigasi di dalam aplikasi tersebut yang bisa di akses selama pengunjung berada di dalam. Atau untuk yang kesulitan dengan membaca peta dalam aplikasi bisa dibekali dengan maps dan juga untuk penunjuk arah semoga bisa ditambah dan diperjelas lagi, karena tidak sedikit pengunjung terutama pengunjung dari warga negara asing yang tersesat.

Klasifikasi Binatang

Saya membayangkan melihat berbagai jenis kucing disana, maksud Saya disini adalah si kucing besar seperti macan, harimau dan jenisnya karena K suka sekali dengan kucing. Tapi akhirnya, didalam Ragunan Saya kebingungan. Kebetulan dari pintu masuk Utara 3 binatang yang pertama kali Saya lihat adalah Jerapah dan Gajah, memang tidak jauh ada penunjuk arah untuk melihat harimau, tapi lagi-lagi Saya kebingungan dengan penunjuk arah tersebut.

Kenapa harimau dan jenisnya harus berjauhan? seperti beberapa binatang yang lainnya dengan jenis yang sama tapi letaknya berjauhan. Ini hanya pendapat Saya saja, kalau Saya sendiri lebih menikmati binatang perfamilinya, seperti monyet tidak diletakkan sebelahan dengan beruang madu kecuali ada beberapa jenis monyet disana dan ada terselip beruang madu sepertinya masih enak untuk dilihat.

Akan tetapi beberapa binatang seperti jenis unggas, ikan, ular sudah ada yang digabung penempatannya.

Lokasi yang kurang bersahabat, Petugas yang minim dan kebersihan

Bagi siapa pun orangtua yang memiliki anak dibawah umur atau paling tidak dibawah usia 10 tahun pasti memikirkan hal ini jika ingin bepergian. Apakah lingkungannya sudah aman untuk anak? Walaupun Kita para orangtua mengawasi tapi lingkungan tempat berekreasi keluarga harusnya ramah untuk anak-anak.

Perhatian Saya tertuju ke sekitar tempat kuda nil, disana ada danau tapi dibeberapa bagian tidak ada pagar pembatas. Ada juga got seperti kali berukuran sedang, arusnya cukup deras dan tidak ada pengamanan. Di beberapa bagian juga seperti tidak terawat, entah tujuannya agak serupa dengan kondisi hutan atau bagaimana tapi seperti tidak terawat dan kurang aman untuk anak-anak.

Lagi-lagi, kurang penanda pada bagian ini. Tidak ada rambu-rambu seperti rambu bahaya, hati-hati atau himbauan yang lainnya. Minimnya petugas diseluruh area juga menyulitkan orang-orang yang tersesat.

Mungkin sekedar masukan kepada pihak Ragunan agar bisa membuat pos-pos penjagaan di titik-titik tertentu. Walaupun sudah ada beberapa petugas yang lewat sesekali dengan motor tetap saja jumlahnya tidak banyak.

Terkait dengan kebersihan memang pada beberapa bagian tidak bersih, banyak sampah dan tidak ada petugas kebersihan tapi mungkin saja ada, hanya saja Saya yang tidak melihat atau memang jumlahnya yang tidak banyak. Untuk kamar mandi standart seperti kebanyakan tempat, karena semua kembali lagi kepada pengunjungnya juga apakah sudah menjaga kebersihan itu sendiri?

 

Sarana duduk-duduk atau picnic area

Walaupun banyak disediakan tempat lapang dan ada taman rekreasi, masih ada beberapa dari orang-orang yang menggelar lapak sembarangan. Mungkin peraturan dimana bisa menggelar tikar perlu dipertegas lagi dan kembali lagi mengenai kebersihan perlu diperbanyak sarana tong sampah, petugas kebersihan dan kesadaran pengunjung untuk tidak sembarangan.

 

Nursery Room

Penting tidak penting untuk Ibu menyusui khususnya. Penting jika ingin sekaligus mengganti popok anaknya, dan mungkin bagi Ibu-Ibu yang tidak biasa menyusui diarea terbuka walaupun sudah menggunakan apron menyusui. Saya tidak tahu apakah ada nursery room di Ragunan, tapi buat Saya nursery room itu menjadi bagian tidak terlupakan bagi mereka yang punya anak balita, bahkan nursery room perlu juga untuk anak yang sudah tidak menyusui.

 

Beberapa kandang seperti tidak terawat

Miris rasanya melihat beberapa binatang kepanasan (lebay nggak sih? tapi bener ruangan mereka tidak terlalu layak), kandangnya bau dan terlihat kusam, tidak terawat. Saya sendiri sebenarnya lebih suka konsep para pengunjung yang di’kurung’ untuk melihat binatang, bukan binatang yang di’kurung’. Tapi setidaknya jika konsepnya seperti Ragunan, perhatikan lah kandang mereka, kebersihannya, apakah layak atau tidak karena dari para binatang ini lah kebun binatang bisa ‘hidup’.

Murah

Masuk Ragunan Zoo tidak mahal, tidak sampai 10 rb, tapi mungkin karena tiket yang terjangkau ini lah beberapa fasilitas terlihat seadanya. Padahal untuk menaikkan tiket beberapa ribu saja menurut Saya masih cukup terjangkau, dan dananya nanti bisa digunakan untuk pemeliharaan bahkan menambah staff agar Ragunan bisa lebih baik lagi.

Buat Saya binatang apa pun itu sama halnya dengan manusia yang membutuhkan kasih sayang, akan sangat disayangkan jika mereka tidak diperlakukan dengan baik.

Sekali lagi review ini hanya dari kacamata Saya, orang awam, seorang Ibu yang memperhatikan sambil membawa anaknya untuk melihat kehidupan lain agar dia bisa lebih berempati.

Semoga Ragunan menjadi semakin baik dengan berbagai fasilitasnya.

Selamat hari Senin.

#Saya nggak bisa foto banyak disana, soalnya terlalu riweuh dengan euforia anak Saya pertama kali ke Ragunan

Advertisements

Children and Animal : Ragunan Zoo, A Short Family Trip

Minggu Kemarin ada ajakan untuk jalan-jalan singkat ke Ragunan dalam rangka ulang tahun Sepupu K. Jalan-Jalan singkat dengan ipar-ipar, mertua dan beberapa kerabat. Saya sendiri sudah beberapa kali ke Ragunan, seringnya ke bagian primata dan biasanya merupakan rangkaian kegiatan sekolah dimana Kita harus mengobservasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya sudah dilampirkan di selembar kertas. Tapi kali ini tidak ada kertas-kertas, yang ada “tas perang” punya K, stroller & gendongan. WAJIB. Singkat cerita sampailah Kami disana walaupun sudah agak siang, sekitar jam 9, dan sudah cukup ramai mobil-mobil dan juga motor terparkir disana.

Kami berkeliling sampai sekitar jam 1 siang, dan dari kunjungan tersebut Saya berniat merangkum beberapa hal positif dan juga negatif dari Ragunan Zoo. Tidak untuk menjelekkan atau melebih-lebihkan tapi memang hanya sekedar sharing pengalaman saja, tapi sebelum itu Saya juga mau share perlengkapan yang mungkin saja dibutuhkan selama disana bagi Mommy diluar sana yang punya anak usia 2 tahun kebawah dan ingin dibawa ke Ragunan.

Membawa anak ke kebun binatang? Dia kan belum ngerti-ngerti amat?
Kalo Saya dulunya berpikir ‘agak’ seperti itu tapi kalau dipikir-pikir, jalan-jalan ke kebun binatang juga bisa menghilangkan stress, bukan hanya si anak tetapi orangtuanya juga. Banyak kelebihannya, seperti Saya dan Suami bisa olahraga sambil gendong K, dorong stroller sambil menguatkan otot tangan, ngejar-ngejar K dan masih banyak lagi. Sementara si anak? tentunya excited dengan ketemu banyak orang, melihat banyak binatang, bisa ketemu lapangan luas dan lari-larian (buat anak tenaga berlebih kayak K, ini surga dunia). Namun, sebelumnya wajib untuk memastikan kondisi anak sedang sehat ya Mom.

Sebelum berangkat kesana, ada banyak yang harus dipersiapkan. Lebay kah ? Nggak juga. Buat Saya hati-hati dan nggak sembarangan lebih baik, nggak ada yang tempat yang benar-benar bersih sempurna sebaliknya nggak ada anak yang nggak boleh kotor-kotoran atau bermain lepas. Berdasarkan jalan-jalan kemarin Saya menangkap beberapa benda penting yang bisa dipertimbangan untuk disiapkan :

Stroller, Gendongan & Tas dan seisinya

Stroller menjadi barang wajib untuk jalan-jalan seperti ini, karena bisa berfungsi banyak. Kalau Saya sendiri lebih suka pakai stroller besar, di rumah ada 2 stroller yaitu stroller nunna (besar) dan cocolatte (kecil, bisa dilipat dan bisa masuk cabin pesawat). Kenapa Saya lebih suka pakai yang besar? karena kalau K lagi digendong atau jalan stroller ukuran  besar bisa digunakan untuk menaruh berbagai barang. Ribet memang karena ukurannya yang besar tapi bisa bermanfaat banyak.

Gendongan yang Saya gunakan bergantian dengan Pak Suami merk ergobaby, sejauh ini cukup nyaman walaupun tidak hipseat. Sebenarnya untuk gendongan bisa menjadi pilihan tersendiri, kalau memang lebih nyaman untuk menggunakan gendongan kain atau geos tidak masalah juga. Tapi kalau Saya lebih suka tangan Saya tidak repot memegang kain, karena Saya tipe Ibu yang tidak terlalu yakin menggunakan gendongan seperti itu karena kaki tidak terjaga (tidak seperti celana yang kemungkinan anak jatuh sedikit, terlebih Saya tidak terlalu mahir menggunakan gendongan semacam itu. (SALUT BUAT YANG BISA, sungguhan… Saya mau banget bisa mahir pake, tapi apalah daya…).

Tas menjadi bagian paling penting karena tas yang Kita bawa harus super nyaman mengingat harus berjalan kaki terus. Saya pernah membeli ransel merk oruru (IG : oruru.bag) sepaket dengan cooler bag, tapi untuk ke Ragunan Saya tidak membawa cooler bag karena makanan semua aman selama ada Ibu Mertua Saya (Thank you Bunda…) Jadi di tas Saya hanya isi baju ganti, pampers, tisu kering, tisu basah (tisu basah bayi biasa & tisu basah khusus untuk mulut dan tangan), sunblock, minyak telon krim, bedak bayi, dan ylo (young living oil yang sudah dicampur di botol kaca jadi tinggal semprot-semprot), tas plastik (untuk buang pampers, karena Saya geli kalau langsung buang gitu. Banyak Ibu-Ibu yang masih asal saja membuang pampers anaknya tanpa diplastik, Please Mom…itu jorok banget Mom please hargai juga mereka yang bekerja sebagai pertugas kebersihan).

Selain keperluan dasar Saya bawa 1 buku K, 1 mainan, saputangan handuk, cemilan (puff nestle yang baru booming & rasanya enak), alat makan, susu dan botol2nya termasuk thermos. Kebetulan Saya juga tidak membawa tas jadi dompet, HP, mukena dan perlengkapan Saya yang lainnya juga digabung. Masih ada space tersedia di dalam tas tapi Saya tidak isi penuh, botol minum juga Saya taruh di stroller karena meminimalisir pegal punggung.

Catatan penting disini Mama & Papanya juga perlu bawa minum, bawa saputangan handuk, pakai sepatu nyaman dan perlengkapan lainnya yang mungkin dibutuhkan seperti obat. K juga Saya bawakan obat tapi obat standart saja, obat panas karena obat yang lain seperti kalau tiba-tiba terasa kembung atau muntah ylo cukup membantu.

Untuk Mama Papanya atau mungkin babynya suka pakai topi, better pakai karena cukup panas. Kalau K entah kenapa dari bayi selalu ngamuk kalau ada yang menutupi kepalanya. Untuk mensiasati ini, Saya memberikan K banyak minum agar tidak dehidrasi karena panas. Kulitnya Saya oles sunblock, dan tidak terlalu memaparkan sinar matahari langsung ke K jika sudah mendekati jam 11.

Setiap keluarga pastinya memiliki perlengkapan perangnya sendiri kalau bepergian, seperti contohnya Ibu Mertua Saya. Selain makanan, beliau membawa tikar dan persediaan minum (untuk menghemat budget) dan juga alat makan serta plastik untuk membuang sampah. Bisa juga ada keluarga yang suka memakai kacamata hitam untuk alasan tertentu, dan masih banyak lagi, atau bahkan ada juga yang tidak seribet Kami hanya membawa air minum dan perlengkapan dasar anaknya juga tidak masalah. Semua kembali lagi kepada kenyamanan saat jalan-jalan dan menikmati semua yang ada disana.

Sebagai gambaran tambahan, Saya ingin menjabarkan kondisi Ragunan disaat saya datang pada postingan selanjutnya. Semoga K bersahabat jadi Mamanya bisa segera menyelesaikan tulisannya.

Selamat berakhir pekan !

Ikeania : K’s Super Bed

Pencarian kasur saat Kiland belum lahir menjadi sebuah pencarian panjang. Keinginan Kami (Saya dan Pak Suami) sama. Dalam mencari atau mendekor perlengkapan kamar Kiland, harus memiliki fungsi yang panjang dan karena Saya berencana memberikan Kiland Adik, dalam hal kasur pun juga direncanakan untuk 2 orang anak nantinya.

Tujuan utama Kami untuk mencari kasur memang hanya Ikea, karena memang sudah mereview terlebih dahulu kasur seperti apa yang akan dibeli. Awalnya Kami berencana untuk membeli 1 kasur dengan banyak laci penyimpanan agar lebih hemat tempat, tetapi kembali lagi ke tujuan awal. Paling tidak Saya mau memiliki 2 anak kalau diberikan izin untuk dititipkan anak lagi oleh Allah SWT. Jadi, pilihan Kami jatuh kepada kasur bertingkat.

Gambar-gambar dibawah ini Saya ambil langsung dari web Ikea. Barang-barang yang sudah Saya review, biasanya beberapa nanti ada di akun instagram Saya : ayukinasih πŸ€—

Dibagian atas kasur ada tenda yang dibeli secara terpisah, kebetulan di IKEA ada 2 warna biru dan pink.


Menariknya kasur ini bisa bolak-balik tinggal bagaimana Kita ingin menggunakannya saja. Kalau Saya saat ini meletakkan kasur dibagian atas karena bagian bawah bisa untuk tempat menyimpan atau main. Bagian bawah kasur Saya berikan matras IKEA Vissla dan butuh 4 buah matras. Matras Vissla sudah tidak Saya temukan di web IKEA, kalau memang sudah tidak tersedia lagi sangat disayangkan karena matras Vissla didesain memang khusus untuk anak bermain. Di bawahnya terdapat karet yang mencegah matras licin saat digunakan.

Catatan penting untuk Bu Ibu Ikeania yang ingin menggunakan kasur serupa, perhatikan ukuran kasur dan juga seprei. Ukuran kasur yang tidak sesuai bisa membuat kasur tidak pas dengan pinggiran karena Saya salah membeli ukuran kasur. Saya sudah bertanya kepada petugas tetapi sepertinya petugas tsb salah memberikan kode, jadi pastikan ukurannya benar. Informasi produk IKEA cukup lengkap terpasang di kemasannya asalkan Kita mau lebih teliti.

Catatan penting lainnya :

Jika ukuran kamar tidak terlalu besar tapi ingin menggunakan kasur model seperti ini gunakan lampu yang dipasang di bagian bawah karena pasti pencahayaannya kurang dan jika ingin menghemat tempat, fungsikan bagian bawah sebagai tempat penyimpanan Kita bisa selipkan rak di bawah untuk buku-buku atau box untuk mainan anak.

Penggunaan kasur juga harus dipastikan keamanannya, walaupun letak kasur diatas nantinya Kiland tetap Saya minta untuk tidur di bagian bawah terlebih dahulu. Happy decorating, Ikeania!

Ikeania : Review RakΒ 

Back with Ikeania, kali ini Saya ingin mereview rak-rak Ikea yang Saya gunakan. Sampai saat ini baru ada 4 rak yang Saya gunakan dirumah, yaitu rak sepatu, rak fenomenal Ikea yang kalau sudah stock para jasa titip berebut untuk beli, dan rak standart yang di bor oleh Pak Suami dengan harga terjangkau tetapi cukup kuat, dan yang terakhir Saya mengatakannya rak tanaman tapi sebetulnya hanya tempat meletakkan pot tanaman yang bentuknya bersusun dan unik.

Lagi-lagi produk Ikea yang ada di rumah dipasang oleh Pak Suami, karena memang memasangnya tidak terlalu sulit. Ikea juga menyediakan box peralatan yang cukup lengkap kalau tidak memiliki peralatan tukang menukang di rumah. Didalam setiap produk yang dijual juga pasti ada tata cara pemasangan yang lengkap, untuk yang punya Suami hobi “oprek2” dan “ketok2” seperti Suami Saya pasti memasang perabotan Ikea menjadi me time Mereka.

Rak pertama yang Saya gunakan di rumah adalah Rak Ekby Laiva, rak ini berwarna coklat tua dan Saya fungsikan untuk meletakkan pajangan, foto-foto dan telepon.

  

Badan rak dijual terpisah dengan braketnya, tetapi harganya cukup terjangkau. Total keduanya tidak sampai 100 rb, Saya juga baru-baru ini membeli rak seperti ini lagi yang difungsikan untuk beberapa decoder yang saat ini masih di dalam lemari tv tetapi belum sempat di bor-bor sama Pak Suami.

Rak kedua yang Saya gunakan adalah rak sepatu. Saya menggunakan 2 bentuk rak, yang pertama ini Saya letakkan di teras berfungsi untuk sepatu-sepatu dan sendal yang sering digunakan.


Dalamnya memang tidak begitu luas, tetapi cukup untuk sepatu-sepatu atau sendal yang sering digunakan. Tapi, bentuk rak seperti ini tidak cocok untuk sepatu yang masih harus dimasukkan ke dalam boks sepatu karena memakan tempat.

Rak lainnya yang Saya gunakan rak berwarna putih, Saya tempatkan di dalam ruangan. Foto berikutnya Saya ambil dari web ikea.co.id


Lemari 3 susun ini awalnya terpisah walaupun dijual langsung per 3 pcs. Kita bisa memilih untuk peletakkannya karena tidak menjadi satu kesatuan. Seperti Saya, 2 kotak sudah terpasang untuk sepatu dan sendal, ruang di dalamnya memang tidak terlalu banyak dan jika Saya membeli sepatu baru yang harus disimpan dengan boks, Saya masih harus menyimpannya di luar rak. Bentukan rak seperti ini sama seperti rak sebelumnya, cocok untuk jumlah sepatu yang tidak terlalu banyak dan menurut Saya bentuk seperti ini memang kurang efisien, maka dari itu 1 kotak lagi belum dipasang dan akan Saya alih fungsikan entah itu untuk peralatan setrika atau kain-kain lap yang belum mau digunakan.

Penggunaan rak sepatu sebenarnya penting-nggak penting, tapi kalau Saya lebih suka menggunakan rak sepatu khususnya yang tertutup karena menghindari debu jalanan dan mempercantik teras Saya. Sedangkan untuk di dalam ruangan Saya memang belum punya tempat penyimpanan sepatu, jadi rak sepatu dalam ruangan cukup membantu Saya. 

Rak selanjutnya adalah rak fenomenal Ikea, sering habis dan kalau sudah stok pasti jasa titip berebut untuk ambil banyak. Yup, yang membaca dan pernah ke Ikea pasti paham.


Rak Lerberg ini memang terlihat biasa saja, tetapi memiliki 3 jenis ukuran dan memiliki beberapa warna. Yang pertama seperti digambar, kecil dengan 4 susun dan yang kedua agak lebih lebar dengan 4 susun, serta lebar dengan 2 susun. Rak ini (khususnya warna putih) cepat sekali habis. Saat dulu Saya masih menjalani jasa titip pun ada beberapa orang yang sudah titip. Memang penempatannya bisa dimana saja, kalau Saya memilih untuk mempercantik halaman depan rumah dulu.

Fyi, pot-pot yang masih kosong itu adalah tanaman yang sedang proses untuk tumbuh. Pot warna ungu adalah lavender, Saya beli di ace hardware dan yang dua dibawahnya tomat & cabe. Saya bukan pecinta tanaman, kadang sulit bagi Saya untuk memulai bercocok tanam tapi Almh. Mama Saya, Alm. Papa dan Suami suka dengan tanaman. Kalau Saya sih hanya penikmat saja dan penggagas ide tanaman apa saja yang bagus untuk di rumah.

Rak terakhir, Saya tidak tau ini termasuk rak atau tidak. Tapi Saya masukkan saja karena fungsinya sama-sama untuk tempat penyimpanan yang bersusun. 


Rak tempat pot kesukaan Pak Suami, fyi, potnya juga dibeli di Ikea seharga 79rb. Cantik memang, tapi harus ada pot lagi didalamnya karena bagian bawah pot tidak bolong dan menurut kang kebun yang biasa bantu Saya, tanaman bisa busuk kalau lama dalam keadaan basah.

Dua rak terakhir memang tidak terlalu penting menurut Saya, dan di rumah hanya berfungsi untuk mempercantik ruangan.Tapi, kembali lagi kepada dimana barang tsb diletakkan. Semoga menginspirasi πŸ€—

The Luxton Hotel Cirebon

Pertengahan Januari ini tiba-tiba ada ide mendadak Kami sekeluarga (dengan Mertua, Adik Ipar, dan Sahabat Saya) pergi ke Cirebon. Rencana awal mau tidur di rumah saja tetapi tidak muat karena memang belum selesai di bangun. Saya kemudian cari-cari hotel yang tidak terlalu jauh dari tempat-tempat yang Saya tuju dan masih terjangkau juga jaraknya dari rumah.

Saya melakukan pemesanan melalui telepon, dan selama proses pemesanan tersebut Saya cukup puas karena staff yang melayani sopan dan informatif, begitu pula saat Saya sudah sampai disana dan melakukan proses check in. Nilai Saya A untuk situasi lobi, staff baik itu petugas keamanan, sampai ke resepsionis. Semuanya berjalan baik dan Saya sangat puas sampai Saya menemukan beberapa hal, bukan hal besar tetapi tidak enak dilihat.

Untuk ukuran hotel yang cukup besar seharusnya staf bisa lebih teliti lagi. Saya menemukan kantong plastik kosong diselipkan di kotak tempat kopi, teh dan gula serta menemukan satu buah jus kadaluarsa berbentuk gelas plastik di kulkas kamar Saya. Selain kecerobohan tersebut salah satu hal yang menurut Saya kurang diperhatikan adalah minimnya gantungan di dalam kamar mandi.

Tapi selain kekurangan tersebut, secara keseluruhan fasilitas hotel bisa dikatakan cukup memuaskan. Kamar pun sebenarnya cukup nyaman untuk ditempati. Saya memesan kamar tipe deluxe dengan connecting door, Saya tidak tambah kasur dan tidak menggunakan baby cot. Jadi, Kami kondisikan sendiri saja 6 orang dewasa dan 1 bayi, Kami hanya menambah sarapan untuk 2 orang dewasa selama 2 hari.

Berikut adalah foto-foto dari kamar yang Saya pesan :


Maafkan untuk barang-barang yang eksis ikut foto πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜… dan ini view dari kolam renang dan tempat bermain anak.

Catatan untuk tempat bermain anak, ruangannya sangat dingin tapi Kita bisa minta sesuaikan suhunya dan untuk anak-anak yang masuk harus menggunakan kaos kaki. Jika Kita tidak membawa dan malas untuk ambil ke kamar, disana juga disediakan dengan membayar Rp 10.000. Untuk dewasa yang ikut masuk tidak harus menggunakan kaos kaki.


Saya secara pribadi masih ingin kembali ke hotel tersebut jika memang ada kesempatan untuk mencoba kamar lainny. Nilai tambah hotel bagi Saya adalah kolam renang dan keramahan stafnya, walaupun ada beberapa kekurangan dan kalau dilihat untuk ukuran kamar deluxe harganya cukup tinggi namun standart jika melihat nama Luxton itu sendiri.

Ikeania Part 2

SELAMAT TAHUN BARU !!!

Walaupun telat karena hari ini sudah pertengahan Januari, tapi semangat tahun baru pasti masih ada kan?

Masih sama dengan postingan sebelumnya tetapi kali ini Saya akan menjelaskan produk IKEA yang ada di dalam kitchen set dan ruang makan. Semua produk-produk IKEA bisa dilihat lebih lengkap di http://www.ikea.co.id. Foto-foto ini di bawah ini langsung Saya ambil dari web IKEA Indonesia karena dapur masih belum fix penempatannya dan masih ada tukang juga yang sering mondar-mandir jadi dapur masih belum bisa di bilang rapi.

 

Box diatas Saya gunakan untuk perlengkapan kebersihan yang masih belum dipakai seperti cadangan sabun-sabun, sikat, spons, dll. Saya letakkan di box agar tidak berantakan dan memang belum ada tempat lagi untuk meletakkan barang-barang tsb, kalau nanti laundry corner sudah selesai (soon…entah kapan) mungkin box ini akan berpindah tempat dan beralih fungsi.

Tempat piring yang Saya gunakan saat ini cuma 2, untuk meletakkan piring-piring kue di dalam lemari tujuannya supaya enak dilihat saja karena jumlah piring kue Saya agak lumayan. Saya berencana untuk beli lagi untuk piring-piring yang besar. Tempat piring ini bisa disesuaikan diameternya dan ada 2 jenis, batas diameter bergantung dari ukuran apa yang Kita pilih.

Tempat diatas sebenarnya berfungsi untuk meniriskan buah setelah dicuci atau cucian piring, tetapi Saya gunakan untuk menaruh bawang bombay dan alat tempur dapur lainnya karena bak cuci piring Saya tidak terlalu besar.

Handuk kecil di atas tidak terlalu penting memang, karena Saya terlalu iseng untuk bebelian jadi Saya beli beberapa satunya di dapur satu lagi Saya letakan di dekat meja makan.

Bak sampah menjadi elemen terpenting di dalam dapur Saya. Dapur mini Saya dulu punya 1 tempat sampah besar yang ada di dekat bak cuci piring dan memang sudah ada disana sejak Saya kecil tapi akhirnya Saya ganti dengan bak sampah tarik ini karena tidak mengganggu mobilitas dan tidak terlihat sehingga baunya (jika ada) tidak tercium.

Rak tarik ini Saya gunakan untuk meletakkan plastik-plastik sampah supaya tidak berserakan, ini karena tempat sampah di rumah ukurannya berbeda-beda jadi harus ada beberapa jenis liter plastik sampah di rumah.

Tempat plastik ini Saya punya keduanya, bermanfaat sekali untuk plastik-plastik belanjaan dan paper bag yang masih ingin digunakan agar tidak berantakan. 

Karosel ini Saya letakkan di pojok kanan dapur yang berbentuk L. Ada 2 pilihan karosel, yang pertama hanya memutar di dalam kitchen set seperti gambar diatas yang kedua bisa ditarik keluar dari kitchen set. Saya gunakan yang hanya memutar di dalam kitchen set karena keterbatasan ruangan.

Klip pastik ini biasanya Saya gunakan untuk makanan-makanan atau kerupuk tapi tidak terlalu berfungsi juga karena Saya biasa langsung semua masuk tupperware (maklum….membeli dagangan sendiri jadi koleksinya terlalu banyak dan sayang kalau tidak digunakan)

Plastik ini Saya punya ke enamnya, 2 warna hijau, 2 warna ungu, dan 2 biru. Semua ukurannya berbeda-beda tapi sejak awal anak Saya makan, Saya gunakan plastik ini untuk pisah-pisah makanannya dan juga daging Saya pisah lagi. Untuk ukuran yang paling besar, Saya biasa gunakan untuk pakaian saat keluar kota supaya ringkes karena bayi Saya ini keliwat aktif jadi semua harus serba cepat.

Ada beberapa barang IKEA lain yang tidak Saya masukkan seperti pisau, alat peniris, keset, dan tempat minum bayi. Saya tidak masukkan karena menurut Saya tidak benar-benar penting, Saya belinya juga tidak sengaja dan latah aja lebih tepatnya karena lucu-lucu.

Setelah dapur Saya mungkin akan mereview random saja tentang barang-barang dari Ikea lainnya karena masih ada juga beberapa yang belum terpasang sama Pak Suami dan memang masih masih dalam jadwal beli, menunggu transferan dan waktu juga. Hey Pak Suami, semoga baca ya postingan ini hehe… Namanya juga Istri merangkap segalanya.

Selamat berakhir pekan.

Ikeania Part 1Β 

Why Ikeania? Postingan ini sengaja Saya beri judul Ikeania sebagai sebutan untuk Mereka yang suka jalan-jalan ke Ikea, sekedar cuci mata atau mencari beberapa barang yang bisa dibilang agak kreatif dari segi bentuk dan manfaat atau membuka jasa titip, like i was. Saya dulu membuka jasa titip IKEA selama beberapa bulan, hal ini dimulai dari Saya yang kembali gemar jalan-jalan setelah bayi bulat Saya bisa dibawa keluar.

Kegemaran Saya akan IKEA lagi-lagi bermula dari Mba Ratih, my all time favourite child psychologist, yang mengajak Saya ke IKEA Malaysia pada waktu itu. Awalnya Saya hanya melihat-lihat, tapi kemudian kalap juga karena ada saja barang yang menarik perhatian Saya.

Kegemaran itu berlanjut ketika IKEA membuka tokonya di Alam Sutra, dari awalnya Saya hanya penasaran sampai memenuhi rumah dengan barang-barang IKEA. Mengenai jasa titip, saat ini Saya sudah tidak menjalankannya lagi karena bentrok dengan beberapa kegiatan dan entah kenapa jalanan akhir-akhir ini agak terlalu macetnya.

Why Ikeania part 1?

Pada postingan Saya ini Saya akan membahas tentang beberapa barang IKEA yang sudah Saya gunakan, bisa dikatakan Saya akan mereview beberapa barang sebagai gambaran kepada Ikeania yang lain jika ingin membeli baik itu menggunakan jasa titip atau berkunjung sendiri ke IKEA. Karena banyaknya barang IKEA yang Saya gunakan Saya akan membagi ke dalam beberapa postingan berdasarkan letaknya di rumah Saya.

Kali ini Saya akan mulai dari dapur, tempat dimana banyak sekali barang IKEA yang Saya gunakan karena memang dapur Saya sedang di rombak pada beberapa bagian dan sampai saat ini masih dalam tahap ‘menabung’ sampain nanti terpenuhi dapur yang sesuai dengan apa yang Saya mau.

Didalam 1 gambar ini ada banyak sekali produk dari IKEA yang Saya gunakan, satu persatu dan Saya jelaskan fungsinya

Foto diatas adalah foto bagian dapur yang agak bertumpuk-tumpuk dan bisa dibilang berantakan karena Saya belum bisa memaksimalkan dengan baik dapur Saya, masih banyak juga barang peninggalan Almarhumah Mama yang rasanya masih bisa digunakan. Jadi, sebisa mungkin Saya meletakkan barang-barang yang masih bisa digunakan dipadukan dengan barang-barang baru dan diatur agak mudah diambil karena memiliki bayi itu semua harus serba cepat.

Berikut rincian dari barang-barang IKEA yang ada diatas :

Tempat bumbu (Fintorp)

Tempat bumbu ini sebenarnya bisa difungsikan untuk apa saja dan penempatannya tidak harus digantung. Kalau Saya memilih tempat bumbu ini untuk meletakkan teko teh dan kecap, kadang Saya juga meletakkan pulpen jika sedang utak-atik resep makanan tapi sebenarnya Kita bisa menggunakan tempat bumbu ini di berbagai tempat bahkan untuk tanaman.

Sikat ini Saya gunakan untuk sikat bak cuci piring


Gunting ini cukup tajam, awalnya Saya cuma punya 3 pcs (1x beli dapat 3) tapi karena dapur dan meja Pak Suami jadi tempat rebutan gunting Saya jadi punya 1 set lagi dan tiap gunting diberi label penempatan agar tidak sembarangan diletakkan karena termasuk benda berbahaya jika diletakkan sembarangan


Talenan isi 2 ini Saya gunakan untuk memasak makanan Baby K, sengaja Saya pisahkan sampai kira-kira 1 tahun dimana nanti dia akan memulai makan makanan rumah sederhana sesuai apa yang Saya masak


Tempat ini juga cukup serbaguna bisa digunakan dimana saja & ada 2 ukuran berbeda tinggi


Tempat tisu roll sebenarnya ada 2 yang satunya berbahan kayu, Saya lebih memilih yang seperti ini karena lebih ringan & lebih murah. Tetapi kembali ke pilihan dan fungsi, jika fungsinya untuk diletakkan di meja makan tentunya yang terbuat dari kayu lebih menarik

Barang-barang lainnya yang juga ada di dapur :

Lemari adalah produk IKEA yang menurut Saya cukup berguna. Kenapa Saya beli di IKEA? Meminimalisir keluar, Saya beli ini sekaligus beli barang-barang lain yang memang cuma ada di IKEA. Harganya memang kurang terjangkau tapi yang Saya suka bentuknya simple dan setelah pemasangan bau dari kayu tidak terlalu menyengat


Rel tempat oven, Saya beli 2 untuk oven dan microwave. Kenapa Saya gantung? Dapur Saya kecil, jadi area dinding harus dimanfaatkan. Saya sendiri tidak menggunakan kitchen set bagian atas dimana biasanya ada tempat untuk oven karena menghalangi pemandangan dan terlihat semakin sempit kalau dinding Saya pasang lemari juga seperti dapur Saya sebelumnya.


Rak bumbu & toples bumbunya. Toples bumbu Saya beli 1 set isi 4 buah. Rak bumbunya gampang dirakit tetapi memang harus pakai bor.


Rak susun ini juga bisa digunakan dimana saja, fungsinya menambah ruang penyimpanan. Fotonya harus diblur karena masih berantakan dan secara bertahap Saya nanti mau membuat coffee corner diluar dapur jadi sementara Saya letakkan di rak yang kosong

Selain beberapa barang di atas, ada juga yang Saya letakkan di dalam kitchen set. Akan Saya share di postingan Saya selanjutnya. Intinya semua pemasangan produk IKEA cukup mudah, tetapi memang perlu di bor agar lebih kuat, dan pada beberapa produk IKEA tidak menyediakan pelengkap seperti paku, dll tapi IKEA selalu memasukkan instruksi pemasangan. Semua barang yang ada di dapur dipasang oleh Pak Suami termasuk merakit lemari.

To be continue : IKEANIA PART 2.