Kiland Road to 1 Year : Perlengkapan bayi (Part 2)

Jumper

Popok Kain

Popok Sekali Pakai

Bedak Bayi

Stroller

Gendongan kain

Gendongan bayi sling

Sebelumnya Saya sudah membahas tentang kamar bayi seperti barang-barang apa yang terpakai oleh Saya. Pada postingan kali ini Saya akan membahas pakaian bayi yang terpakai oleh Kiland termasuk didalamnya perlengkapan kesehatan dan juga perlengkapan mandi. Selain itu, Saya juga akan membahas perlengkapan ‘perang’ Saya & Suami kalau membawa Kiland keluar. Rentang waktu yang Saya gunakan masih di 6 bulan pertama sejak kelahiran Kiland.

Pakaian Bayi

Dalam memilih pakaian bayi ternyata Kita sebagai orangtua juga harus memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, hari-hari pertama kelahiran Saya dan Suami menyesuaikan suhu kamar dengan Kiland yang harus selalu hangat agar tidak kuning bahkan selama menyusui pun juga kondisi ruangan hangat. Ternyata Kiland tidak cocok dengan kondisi ruangan seperti ini, badannya menjadi merah-merah sehingga Saya menyesuaikan suhu ruangan dengan sedikit lebih dingin & ternyata memang Kiland lebih suka dengan suhu dingin.

Pakaian yang biasa Saya gunakan untuk siang hari tidak berlengan panjang dan berkaki panjang karena cukup panas udaranya, tetapi kalau dingin baru Saya ganti dengan celana panjang dan biasanya dibedong supaya hangat. Sebagai tambahan, bedong sampai saat ini Saya gunakan sebagai selimut kalau Kiland tidur siang tetapi hawa terasa sedikit panas. Tujuannya tetap mengcover tubuh tetapi tidak terlalu panas.

Selanjutnya, perdebatan antara popok kain atau popok sekali pakai. Saya putuskan untuk menggunakan terus popok sekali pakai saat sudah di rumah, karena Kiland kebetulan anak yang tidak betah dengan popok basah walaupun hanya sedikit terlebih Saya kesulitan untuk membersihkan popok kain jika waktunya terbatas dan persediaan popok kain tidak banyak. Jika khawatir tentang ruam popok, ada banyak cara untuk mencegah ruam popok yang bisa Kita searching kapan saja atau bisa Kita tanyakan ke dokter. Namun, menurut Saya ada baiknya dibeberapa minggu sejak kelahiran bayi masih menggunakan popok kain.

Perlengkapan Mandi

  • Bak mandi bayi, berdasarkan pengalaman yang ada usahakan langsung membeli bak mandi bayi yang bisa digunakan oleh newborn sampai kira-kira diatas usia 1 tahun/sampai bayi bisa berdiri dengan nyaman di kamar mandi.
  • Sabun & sampo bayi, pastinya berganti-ganti tetapi perlu ada 1 sabun mandi & sampo bayi yang anti alergi. Kalau Saya menggunakan pigeon. Selain itu, untuk bepergian akan lebih praktis menggunakan sabun & sampo 2in1.
  • Baby Oil, merk apa pun tapi kalau Saya lebih suka wangi zwitsal. Baby oil kadang Saya campurkan ke bak mandi Kiland jika suhu diluar sangat panas.
  • Bedak bayi
  • Baby Hair Lotion & Baby Body Lotion
  • Baby Diaper Cream
  • Minyak telon, Saya punya keduanya baik itu bentuk telon yang krim dan yang cair. Saya tidak sengaja membeli telon krim karena Kiland sempat merah2 dan tidak bisa kena panas baik itu air hangat atau pun cuaca, jadi agar mencegah iritasi semakin parah Saya menggunakan telon krim yang bahkan masih Saya gunakan sampai sekarang, untuk telon cair biasanya Saya balurkan di telapak kaki saja atau membutuhkan hangat lebih di malam hari.

Beberapa peralatan mandi lainnya yang diperlukan seperti handuk, waslap dan sebagainya bisa menyesuaikan kondisi di rumah. Selain itu ada juga beberapa Ibu yang menggunakan essential oil sehabis mandi, biasanya menggunakan lavender untuk daya tahan tubuh anak.

    Baby On The Go

    • Stroller, sangat penting memiliki stroller yang multi fungsi walaupun Saya juga jadi punya 2 stroller karena minimnya pengetahuan Saya saat itu tentang stroller. Tapi buat Saya, stroller itu harus menyesuaikan lingkungan Kita terutama yang akan membawa stroller dengan mobil ukuran kecil. Jangan memaksakan stroller yang besar dan terlihat nyaman tapi akhirnya jadi memakan tempat.
    • Baby Carrier, Saya menggunakan ergo baby 360 dan juga gendongan kaos. Ergo baby lebih terpakai karena memang lebih nyaman bagi Saya atau pun Suami. 
    • Kasur bayi portable, Saya tidak tahu apa namanya tetapi bentuknya seperti kasur, ada ritsleting kanan dan kiri, bisa dibawa-bawa bahkan saat bayi berada di dalamnya. Saya menggunakan kasur ini saat Kiland harus ikut pergi, dengan ditidurkan saja di dalam kasur. Tetapi tetap harus menggunakan bantal dan harus dengan pengawasan penuh karena bisa saja bayi terguling.
    • Tas Bayi, tas bayi yang Saya gunakan ada 2 bentuk ransel dari Gabag dan Oruru keduanya berbeda fungsi. Kalau bawaan sedikit Saya menggunakan Gabag, dibawahnya sudah ada cooler bagnya sedangkan untuk bawaan banyak Saya menggunakan oruru bag dengan cooler bag terpisah. Tas bayi lainnya yang Saya punya selebihnya merupakan kado berbentuk selempang, tidak terlalu besar tapi cukup untuk bebawaan Kiland kalau Kami cuma ke supermarket.
    • Carseat, penting tidak penting tapi bagi Saya sangat penting. Pesan Saya adalah cari carseat yang kompatibel dengan mobil Kita terlebih dahulu terutama untuk mobil-mobil produksi di bawah tahun 2010, googling yang banyak dan banyak-banyak membaca forum.

    Peralatan Kiland lainnya yang sering Saya bawa keluar tentunya sama dengan kebanyakan anak-anak lain, yaitu mainan, guling, bantal, selimut dan beberapa popok, baju & alat mandi cadangan yang selalu tersedia di dalam mobil. Saat Kiland mulai berjalan, Saya biasa meninggalkan 1 kaos kaki dan sepatu di dalam mobil.

      Membeli peralatan bayi memang menjadi hobi para Ibu baru, semoga postingan Saya sedikit memberikan manfaat. Semoga tidak ada yang terlewat, Saya membuka saran postingan bayi yang lainnya. Please do send your email, comment or critic to anggarini.kiland@yahoo.com or DM me on my IG account : @ayukinasih.

      Kiland Road To 1 Year : Perlengkapan bayi (Part 1)

      Baby Crib

      Baby Bouncer

      Baby Soap

      Lotion

      Stroller

      Mosquito Repellent…

      Membeli perlengkapan bayi memang tidak ada habisnya, bahkan Kita tergiur untuk selalu mencoba produk baru atau membeli produk yang sama tapi wangi yang berbeda. Kadang juga barang yang belum tentu diperlukan ternyata ikut dibeli juga. Membeli banyak furniture baru untuk mendekor kamar bayi, sah-sah saja memang jika memiliki persiapan keuangan yang berlebih atau memiliki ruangan yang luas dan mudah untuk di dekor.

      Postingan Saya ini akan membahas 6 bulan pertama perlengkapan bayi yang dibutuhkan di rumah, serta setting ruangan yang Saya gunakan selama 6 bulan pertama. Semua yang Saya tulis berdasarkan kondisi dan situasi rumah yang sudah Saya jelaskan di postingan sebelumnya, yaitu tanpa ART dan Saya sering pergi keluar.

      Hari pertama Saya pulang dari RS langsung menuju ke rumah mertua Saya. Kebetulan Saya pulang dengan menggendong bayi Saya dan tidak ditidurkan di baby car seat karena memang car seat Saya tidak kompatibel dengan mobil. Tetapi menurut Saya agak was-was untuk meletakkan bayi di car seat dengan kondisi jalanan Jakarta yang macet dan membuat waktu tempuh perjalanan menjadi lama. 

      Berikut list barang yang Saya gunakan :

      Perlengkapan Ibu

      • Jamu habis bersalin, kalau Saya menggunakan jamu merk nyonya meneer. Bagi Saya ini wajib, kudu! Fungsinya membantu membersihkan secara menyeluruh darah-darah yang ada di dalam tubuh karena selama 9 bulan Kita tidak haid. Tetapi kembali lagi disesuaikan dengan kondisi, kalau Saya memang penikmat jamu dan terbiasa minum jamu. Ada yang mengatakan jamu mempengaruhi ASI, jika takut hal ini terjadi gunakan jurus minum air putih dalam jumlah banyak saja.
      • Gurita Ibu, terpakai hanya beberapa minggu saja karena setiap menggunakan gurita entah kenapa anak Saya menyusu kurang tenang, mungkin karena tidak langsung menempel ke kulit Saya.
      • Maternity Pad, masih menjadi pahlawan sampai 40 hari bahkan sampai sekarang di 2 hari pertama haid Saya pasti menggunakan maternity pad dibanding pembalut biasa karena permukaannya lebih halus dan daya serapnya banyak.
      • Bio Oil, minyak untuk menghilangkan stretchmark  buat Saya yang telat memakai minyak seperti ini yang seharusnya dipakai dari sebelum melahirkan. Pemakaiannya wajib rutin kalau tidak ya akan lama hilangnya (seperti Saya yang sering lupa)
      • Botol minum yang selalu tersedia untuk mencegah dehidrasi.
      • Bra menyusui lebih banyak.
      • Bantal menyusui, atau bisa diakali dengan bantal biasa yang empuk dan tidak terlalu tinggi. Kalau Saya selain dapat kado bantal menyusui Saya beli satu bantal peyang ukuran kecil untuk kepala bayi bagian tengah saja dan bantal bisa dikaitkan di tangan Saya (Beli di Matahari, mungkin untuk yang berminat bisa hunting ke sana)
      • Perbanyak baju berkancing dengan dan membeli nursing cover.

      Saat pergi keluar barang Kita akan lebih banyak dibawa dibanding dengan biasanya, usahakan untuk menggunakan 2 tas bagi yang bepergian dengan mobil. 1 tas untuk perlengkapan yang wajib dibawa turun dari mobil, 1 tas lagi untuk barang-barang yang tidak harus selalu dibawa seperti pompa ASI, cadangan pakaian dalam, dan jangan lupa untuk membawa cooler bag jika harus bepergian dalam jangka waktu yang lama.

      Kamar Bayi

      Kamar bayi jika Kita membaca semua sumber yang ada pasti mengacu kepada satu kamar penuh dengan bayi dan khusus untuk bayi, bagi Saya kamar bayi ada 2. Saya memanfaatkan kamar lama Saya di rumah yang nantinya digunakan Kiland untuk menaruh beberapa barang Kiland seperti kasur, boks berisi perlengkapan mandi & kesehatan cadangan atau sisa kado, beberapa kado, lemari baju (Sudah sejak Kiland lahir Saya gunakan untuk menyimpan baju Kiland), stroller dan mainan yang masih belum bisa digunakan.

      Di dalam kamar tidur Saya, ada 3 barang ampuh yang Saya gunakan sampai kira-kira usia Kiland 6 bulan bahkan ada yang masih Saya gunakan sampai sekarang :

      • Kelambu; Awal Kiland pulang dari rumah sakit ke rumah mertua sampai pulang ke rumah sendiri, Kiland masih tidur dengan kelambu dikasur bersama Saya. Setelah itu, Kami mendapat kado dari Kakak ipar kelambu yang lebih besar sampai menutupi kasur yang akhirnya masih Saya gunakan sampai sekarang. Kiland sendiri masih tidur bareng satu kasur dengan Saya dan Suami sampai kira-kira usianya 3/4 bulan.
      • Baby Box; Walaupun Kami telat membeli baby box, ternyata baby box fungsinya banyak sekali. Saya terbiasa menaruh Kiland di baby box kalau ada yang ingin dikerjakan, tetapi sejak usia 7 bulan Kiland sudah mulai berdiri dan lama kelamaan menginjak bantal untuk melihat keluar  box Saya menyimpan baby boxkarena khawatir bisa “terjun” dari dalam box. Dalam memilih baby box sesuaikan dengan kebutuhan dan juga dana yang tersedia, tidak wajib hukumnya memiliki baby box, Kiland juga pernah membeli baby box portable yang bisa dibawa kemana saja dan selama hampir 6 bulan digunakan di mobil kalau bepergian cukup jauh, baby box portable ini Saya beli di Matahari tetapi sekarang sudah banyak sekali yang dijual secara online.
      • Rak susun; Karena pakaian yang digunakan masih kecil ukurannya, Saya menggunakan rak susun 4 yang isinya pakaian, gurita (hanya digunakan sampai menjelang 2 bulan, selebihnya bergantung dari Kiland kadang menolak dipakaikan gurita), kaos kaki, bedong (sudah tidak menggunakan bedong diusia 2 bulan karena berontak, hanya digunakan untuk alas tidur), selimut, dan perlengkapan lainnya. Rak susun sangat bermanfaat terutama bagi Ibu-Ibu yang sudah memiliki rak susun sebelumnya tinggal dikosongkan saja dan bisa digunakan selama beberapa bulan untuk menghemat pengeluaran.

      Biasanya Ibu-Ibu disana memiliki changing table yang digunakan untuk mengganti popok atau memakaikan pakaian bayi setelah bayi. Kalau Saya memanfaatkan lemari pendek yang hanya setinggi pinggang Saya, Saya beri alas empuk & perlak kemudian jadi lah changing table mendadak, atau kadang Saya meletakkan Kiland di kasur saja. Bagi Saya changing table kurang memiliki fungsi, jika Kita memerlukan tempat untuk meletakkan perlengkapan bayi setelah mandi Kita bisa memanfaatkan ruangan lain dirumah, dan untuk tempat popok Saya membeli tempat popok gantung dari IKEA yang Saya gantung digagang pintu lemari pakaian Saya. 3 hal tsb adalah 3 perlengkapan bayi esensial menurut Saya, perlengkapan lainnya seperti perlak, bak mandi dan yang lainnya akan Saya bahas di postingan selanjutnya agar tidak terlalu panjang. 

      Jika ada yang membutuhkan foto ruangan dsb, bisa di email ke Saya : anggarini.kiland@yahoo.com atau membutuhkan info lainnya, semoga bisa membantu.

      Have a nice day!

      Kiland Road to 1 Year : Persiapan menuju kelahiran

      Melahirkan merupakan hal yang paling ditunggu untuk semua calon Ibu, semua rasa tercampur didalamnya termasuk Saya yang merasakan rasa takut, senang, dan tidak sabar menjadi satu. Bagi Saya kehamilan pertama ini sungguh luar biasa, kenapa? Karena Saya tidak menyangka akan sekuat ini. Awal-awal kehamilan Saya masih harus tidur diatas matras rumah sakit selama hampir 4 bulan, Saya mulai dinyatakan hamil di pertengahan bulan Juni dan masih harus menunggu Mama Saya di ICU sampai beliau meninggal dunia di pertengahan September. Selama itulah Saya tidur di ruang tunggu dengan Suami, terkadang menyewa hotel rumah sakit dan kadang juga kalau pengeluaran Kami sudah banyak dan Saya tidak kuat tidur di bawah, Saya ‘mengungsi’ ke rumah Om.
      Tidak berhenti, setelah Mama Saya meninggal dunia Saya masih mengurus banyak hal yang berhubungan dengan Mama. Dari situ Saya sempat di rawat, Alhamdulillahnya bayi di dalam perut Saya sangat kuat. Semua kembali ke mindset  Kita, dan hasilnya sekarang bayi bulat Saya agak tahan banting. Saya bukannya mau memaksakan anak untuk kuat atau bagaimana, tapi memang Anak Saya terbentuk seperti itu, mungkin terdengar kasar tapi kuat maksud Saya disini adalah Dia tidak mudah merengek, hanya sebatas manja-manja kecil saja dan mungkin juga satu kuncinya, saat Saya merasakan senang atau sedih Saya sering memeluk bayi bulat Saya. Pelukan itu bagi Saya adalah obat dari segala macam penyakit.

      Kembali kepada topik, kali ini Saya akan memposting keperluan melahirkan sebagai bentuk syukur hampir 1 tahun menjadi seorang Mama Kiland. Saya termasuk orang yang suka membaca blog tentang persiapan melahirkan jadi semoga saja postingan Saya ini bermanfaat untuk Ibu-Ibu diluar sana yang sedang menunggu kelahiran atau sedang di masa kehamilan.

      Biaya Melahirkan

      Hal pertama yang harus dipersiapkan tentunya adalah biaya baik melahirkan di rumah sakit mau pun bidan atau rumah. Jika sudah direncakan sejak awal menikah ada baiknya juga memasukkan uang Kita di tabungan-tabungan berjangka yang ada di bank. Kalau Saya sendiri memasukkannya di Tabungan Rencana Mandiri, biasanya nominal bisa Kita ubah asalkan tidak dibawah nominal. Jadi misalkan sejak awal menikah Kita ingin menabung untuk biaya melahirkan kelak bisa Kita mulai dari nominal kecil, setelah Kita sudah diketahui hamil biayanya bisa ditambah.

      Tabungan dengan jenis seperti ini bisa membuat Kita disiplin dalam menabung karena setiap bulan langsung di debit dari rekening. Jumlahnya pun bisa disesuaikan dengan kemampuan termasuk juga jangka waktu menabungnya, jika waktu menabungnya lewat dari waktu kelahiran biaya tsb bisa digunakan untuk mengganti biaya melahirkan. Bagaimana pun caranya perlu dipisahkan antara kebutuhan sehari-hari dengan kebutuhan selama kehamilan sampai melahirkan.

      Perlengkapan Bayi

      Kebutuhan lainnya yang tidak kalah penting tetapi menarik untuk dilakukan adalah mengumpulkan perlengkapan bayi, sebelum mulai berbelanja yang harus dilakukan adalah “kepo” dengan segala media baik itu memanfaatkan google, social media, bertanya atau membaca majalah/buku intinya adalah mendapatkan gambaran barang-barang kebutuhan bayi. Tidak hanya mencari tau apa saja yang dibutuhkan tetapi mencari tau juga dibeli dimana, survey harga dan juga merk.

      Saya akan memberikan rincian barang yang terpakai selama satu tahun ini, tentunya Saya hanya mencantumkan barang-barang yang dipakai saja sesuai dengan kondisi selama satu tahun ini. Kondisi selama satu tahun ini adalah selama hampir 11 bulan Saya tidak ada ART, di minggu pertama setelah melahirkan sampai kira-kira 10 hari Saya dirumah mertua belajar memandikan dan merawat bayi sekaligus memulihkan kondisi. Setelah itu Saya survive di rumah, survive disini Saya tidak mengatakan Saya bisa melakukan semuanya tanpa cela atau tanpa pertolongan, malah Saya kecolongan dan sampai sekarang Anak Saya masuk sufor. Tidak buruk karena apa pun yang diciptakan pasti memiliki manfaat, selama anak Saya baik-baik saja Saya mengesampingkan judgement dari orang banyak. Di rumah pun Saya masak sendiri dan kadang dibantu Suami dengan supervisi penuh Saya dari depan pintu dapur & hanya di 5 hari pertama pulang Tante Saya membantu, selebihnya keinginan Saya yang ingin mencoba sendiri.

      Kondisi lainnya adalah bayi Saya tongue tie dan sulit untuk menyusu dengan Saya sehingga harus di insisi, padahal bisa saja tidak di insisi, tetapi yah sudah…semua menjadi pelajaran. Bayi Saya aktif, beberapa kemampuan motorik kasarnya berkembang cukup cepat tetapi ada juga beberapa kemampuan motorik kasar yang tidak sempurna, kalau kata Mba Ratih, Psikolog tercihuy Saya, Bu Bos dan Teman sharing Saya “kurang puas” pada satu fase yang mempengaruhi fase berikutnya sehingga ada beberapa hal yang harus dikondisikan.

      Kembali kepada perlengkapan bayi, berikut list perlengkapan yang Saya gunakan :

      Selama di rumah sakit :

      • Pompa ASI : Ternyata sangat penting terutama bagi bayi-bayi yang kondisinya sulit untuk dibangunkan diawal-awal kelahiran, Kita harus memancing ASI untuk keluar dengan memompa ASI selama selang 2 jam. Waktu di rumah sakit Saya sampai bergantian dengan Suami memompa ASI, kadang kalau Saya sudah ngantuk Suami yang pegang corong pumping dan Saya tidur. Pompa ASI juga sangat berguna untuk Ibu-Ibu yang belum bisa memerah ASI secara manual.
      • Gelas kaca, softcup : Gelas kaca berfungsi untuk menyimpan ASI tentunya selama Kita masih dirumah sakit dan softcup untuk memberikan ASI kepada bayi.
      • Maternity Pad : Penyelamat selama 40 hari masa nifas, bawa secukupnya karena biasanya di rumah sakit tersedia juga.
      • Pakaian dalam termasuk bra menyusui dan juga breast pad. Breast pad bisa dibeli menyusul tergantung dari jumlah ASI, fungsinya hanya untuk mencegah ASI rembes.
      • Pakaian untuk pulang usahakan yang berkancing untuk mempermudah menyusui. Pakaian selama di rumah sakit umumnya disediakan oleh rumah sakit.
      • Botol minum : Berguna agar tidak kesusahan untuk minum karena Ibu menyusui wajib untuk banyak minum air putih
      • Untuk yang memakai jilbab, jilbab instan dan pashmina menjadi penyelamat
      • Sandal yang nyaman & kaos kaki
      • Perlengkapan mandi baik untuk wajah, badan, rambut harus aman untuk Ibu hamil. Lotion untuk stretchmark dan untuk tubuh agar tidak kering. 
      • Perlengkapan kesehatan; saat itu Saya gunakan betadine untuk membersihkan bekas-bekas melahirkan tetapi setelah ke rumah betadine Saya ganti dengan rebusan daun sirih.
      • Buku bacaan atau yang sudah menggunakaan ebook bisa juga membawa ipad/tab lumayan untuk mengusir kebosanan atau bisa juga mempada ipod, jauh-jauh hari masukkan lagu-lagu kesukaan Kita sebagai mood booster saat pumping. Saya tidak menggunakan ipod saat menyusui karena Saya lebih suka melihat wajah anak sebagai mood booster.
      • Bantal kecil atau apa pun yang membuat Kita nyaman saat tidur.
      • Baju bayi, popok kain, gurita, sarung tangan dan kaki, selimut bayi disesuaikan dengan perkiraan hari dirawat.
      • Gendongan bayi/stroller, keduanya sama saja apapun yang membuat nyaman tetapi Saya lebih rekomen menggunakan gendongan bayi.
      • Perlengkapan kebersihan bayi biasanya diberikan oleh rumah sakit termasuk perlengkapan kesehatannya.

      Beberapa Ibu mungkin kondisinya berbeda, kalau dengan kondisi Saya daftar diatas itu adalah daftar perlengkapan yang terpakai di rumah sakit. Khusus untuk melahirkan secara caesar Saya sama sekali tidak ada gambaran karena pasti kebutuhannya akan berbeda lagi. Selanjutnya nanti Saya akan memposting kebutuhan bayi selama 1 tahun pertama, tentunya Saya jabarkan dengan versi Saya selama 1 tahun. 

      Semoga postingan ini membantu dan menambah referensi Ibu-Ibu diluar sana, intinya adalah pikirkan terlebih dahulu kondisi Kita dan bayangkan akan melahirkan dimana, dengan normal atau ada kemungkinan caesar serta perbanyak membaca blog/majalah/buku/web/forum tentang melahirkan atau mempersiapkan kelahiran. Saya sendiri ada 1 buku yang Saya jadikan pedoman selama mencari perlengkapan bayi, tidak semua Saya ikuti karena semua bergantung dari hati nurani dan tentunya kondisi.

      Have a nice day ! 

      Ikeania : K’s Super Bed

      Pencarian kasur saat Kiland belum lahir menjadi sebuah pencarian panjang. Keinginan Kami (Saya dan Pak Suami) sama. Dalam mencari atau mendekor perlengkapan kamar Kiland, harus memiliki fungsi yang panjang dan karena Saya berencana memberikan Kiland Adik, dalam hal kasur pun juga direncanakan untuk 2 orang anak nantinya.

      Tujuan utama Kami untuk mencari kasur memang hanya Ikea, karena memang sudah mereview terlebih dahulu kasur seperti apa yang akan dibeli. Awalnya Kami berencana untuk membeli 1 kasur dengan banyak laci penyimpanan agar lebih hemat tempat, tetapi kembali lagi ke tujuan awal. Paling tidak Saya mau memiliki 2 anak kalau diberikan izin untuk dititipkan anak lagi oleh Allah SWT. Jadi, pilihan Kami jatuh kepada kasur bertingkat.

      Gambar-gambar dibawah ini Saya ambil langsung dari web Ikea. Barang-barang yang sudah Saya review, biasanya beberapa nanti ada di akun instagram Saya : ayukinasih 🤗

      Dibagian atas kasur ada tenda yang dibeli secara terpisah, kebetulan di IKEA ada 2 warna biru dan pink.


      Menariknya kasur ini bisa bolak-balik tinggal bagaimana Kita ingin menggunakannya saja. Kalau Saya saat ini meletakkan kasur dibagian atas karena bagian bawah bisa untuk tempat menyimpan atau main. Bagian bawah kasur Saya berikan matras IKEA Vissla dan butuh 4 buah matras. Matras Vissla sudah tidak Saya temukan di web IKEA, kalau memang sudah tidak tersedia lagi sangat disayangkan karena matras Vissla didesain memang khusus untuk anak bermain. Di bawahnya terdapat karet yang mencegah matras licin saat digunakan.

      Catatan penting untuk Bu Ibu Ikeania yang ingin menggunakan kasur serupa, perhatikan ukuran kasur dan juga seprei. Ukuran kasur yang tidak sesuai bisa membuat kasur tidak pas dengan pinggiran karena Saya salah membeli ukuran kasur. Saya sudah bertanya kepada petugas tetapi sepertinya petugas tsb salah memberikan kode, jadi pastikan ukurannya benar. Informasi produk IKEA cukup lengkap terpasang di kemasannya asalkan Kita mau lebih teliti.

      Catatan penting lainnya :

      Jika ukuran kamar tidak terlalu besar tapi ingin menggunakan kasur model seperti ini gunakan lampu yang dipasang di bagian bawah karena pasti pencahayaannya kurang dan jika ingin menghemat tempat, fungsikan bagian bawah sebagai tempat penyimpanan Kita bisa selipkan rak di bawah untuk buku-buku atau box untuk mainan anak.

      Penggunaan kasur juga harus dipastikan keamanannya, walaupun letak kasur diatas nantinya Kiland tetap Saya minta untuk tidur di bagian bawah terlebih dahulu. Happy decorating, Ikeania!

      Mercure Hotel (Karawang) A short trip with the Kiland’s

      3 bulan sudah sejak postingan terakhir walaupun ada beberapa postingan yang masih kesimpen di draft, tapi entah kenapa tiba2 ingin merealisasikan ide yang tercetus sejak lama dengan Pak Suami.

      Sudah menjadi rahasia umum dikalangan teman-teman & keluarga kalau Saya ini paling nggak bisa diem di rumah. Kalau ada waktu Saya maunya jalan-jalan aja setiap hari. Saat ini mungkin ada beberapa kendalanya seperti kondisi rumah yang masih saja di tahap renovasi sana-sini. Demi meneruskan cita-cita Almh. Mama Saya dengan ide rombak rumahnya yang akhirnya tidak bisa dilakukan oleh beliau sendiri.

      Tapi sekitar pertengahan November 2016 Saya dan Pak Suami + Baby K ada kesempatan untuk liburan walaupun cuma 1 malam yang dibarengi dengan ke makam Mama & Papa.

      Sebelum berangkat Saya melakukan reservasi hotel. Pak Suami menyarankan untuk melakukan reservasi di Mercure Karawang karena letaknya tidak begitu jauh dari makam & rumah Kakak Ipar Saya, dan kebetulan pula Saya sudah pernah menginap di hotel ini lebaran tahun lalu.

      Satu kendala Saya yaitu kesulitan memandikan bayi. Saya boleh dikatakan takut untuk memandikan bayi Saya dengan cara-cara unik, apalagi bayi Saya masih di bawah 1 tahun. Setelah melihat-lihat di web milik Mercure Karawang, Saya memutuskan untuk mengambil kamar suite. Lebih mahal memang dibandingkan dengan kamar Deluxe yang Saya pesan saat lebaran, tetapi mengingat Saya ingin sekali anak nyaman tidak ada salahnya sekali-kali memesan kamar suite terlebih Adik Ipar Saya juga ikut pasti akan lebih nyaman jika ruangannya lebih besar.

      Ohya, sebagai tambahan kebetulan Saya hobi untuk membandingkan harga hotel karena beberapa kali sering Saya lakukan saat kerja (Thanks to Ibu Psikolog kesayangan Mba Ratih Zulhaqqi) jadi sekarang Saya kebiasaan untuk cek harga mana yang paling pas untuk di rumah. Kebiasaan sederhana tapi bisa sangat bermanfaat.

      Kembali ke hotel, kamar Saya terletak di lantai 10, cukup tinggi dan kalau malam hari ada nilai tambahan yaitu hiasan lampu-lampu dari arah bundaran depan hotel yang terlihat jelas. Kamar Saya tidak terlalu jauh dari lift kebetulan jadi cukup mudah aksesnya untuk ke lift walaupun jika Saya mendapatkan kamar diujung aksesnya juga tidak terlalu sulit.

      Well, mari Kita lanjut ke dalam kamar. Begitu membuka pintu Kita melihat ruang tamu dengan tv, sofa, dan meja kerja. Tapi sebelum sampai kesana Kita akan menemui toilet di sebelah kiri dan lemari baju serta tempat sepatu dikanan. Menariknya lemari baju terhubung dengan kamar mandi (akan Saya share nanti foto-fotonya) Jadi, buat yang sedang mandi tidak boleh lupa untuk cek pintu lemari ya hehehe… Kemudian maju sedikit ke arah sofa disebelah kiri ada connecting door yang tentunya tidak difungsikan untuk Saya yang hanya menyewa 1 kamar dan ada mini bar, mesin pembuat kopi, kopi, teh dan beberapa perlengkapan mini bar standart lainnya. Namun sayang, ada 2 nilai kurang memuaskan bagi Saya yang travelling dengan bayi yang sudah mulai makan, yaitu hotel menggunakan air mineral yang ada rasanya padahal setau Saya air tersebut kurang baik untuk dikonsumsi dan mini bar yang sulit untuk menyimpan makanan beku karena bukan kulkas sehingga Saya harus menitipkan makanan beku di restaurant hotel.

      Kembali kepada ruangan lainnya, kalau tadi Kita bahas sisi kiri dari ruangan sekarang kalau Kita berjalan mengarah ke kanan ada pintu lagi yang menghubungkan dengan kasur dan juga kamar mandi. Nilai tambahan lagi di depan kasur ada tv, buat Saya kemarin tv kamar dijajah oleh Suami sedangkan tv luar di jajah Adik Ipar. Kasur yang disediakan cukup besar, Saya bisa tidur bertiga tanpa digeser-geser bayi Saya yang kalau tidur pasti muter-muter.

      No picture, hoax? No problem, Saya akan lampirkan foto-foto kamar Saya semoga bisa membantu memvisualisasikan bentuk kamar di pikiran Anda.



      Semoga review tadi bisa jadi bahan pertimbangan bagi Mama dan Papa yang mau travelling dengan babynya. Next semoga Saya bisa mereview tempat-tempat lain karena dari review-review itu lah Saya belajar juga, rasanya terus belajar dan berbagi itu bisa menumbuhkan rasa percaya diri Kita untuk menjadi Mama yang lebih baik lagi untuk keluarga.

      Happy Holiday !

      Happy 6 mo : Hore Kiland MAKAN!

      Makan! 

      6 bulan memang (menurut berbagai sumber) merupakan saat yang tepat bagi seorang anak untuk memulai ‘mengenal’ rasa. Disini, Saya hanya mencoba untuk share persiapan menuju hari ini, hari pertama baby bulat Saya memulai makanan pertamanya.

      Sudah sejak memasuki bulan ke-5, Saya memaksa diri untuk mulai kembali budaya membaca. Sejak itu Saya mulai searching-searching baik itu di WEB, Instagram & toko buku. Saya tidak sendirian, Pak Suami yang pernah melihat contoh pemberian makan pada bayi yang kurang baik juga sering Saya ganggu dengan link-link bahan bacaan yang Alhamdulillahnya dibaca juga. Pak Suami juga berkomitmen untuk ‘balas dendam’ memberikan makanan yang sesuai karena permasalahan si ASI kemarin dan banyaknya Ibu-Ibu diluar sana yang hanya berbekal ‘yang penting kuah’ dan ‘yang penting makannya mau & cepat’ dan Pak Suami melihatnya langsung, hampir setiap hari.

      Pencarian Saya dimulai dari instagram, Saya mulai mencari-cari dengan hashtag mpasi, makanan bayi, mpasibayi dan sejenisnya. Kemudian Saya menemukan beberapa instagram Ibu baru yang memang sudah mulai melakukan MPASI. Saya ikuti dan mulai ‘membedah’ instagramnya.

      Berlanjut dari instagram Saya beralih ke WEB, Saya mulai mencari situs-situs yang berhubungan dengan makanan bayi, tumbuh kembang bayi, dan bagaimana cara memberikan makanan bayi. Setelah selesai browsing Saya tetap menuju toko buku, karena buku itu sudah menjadi bagian hidup Saya walaupun teknologi saat ini sudah cukup canggih.

      Singkat cerita dari keseluruhan sumber yang Saya pelajari, nilai pentingnya adalah komitmen Kita, orang tua untuk memberikan yang terbaik, tidak terlambat, dan konsisten untuk memakan makanan yang sehat. Tidak hanya untuk Anak tetapi untuk Kita sendiri, karena anak-anak akan melakukan apa yang Kita lakukan. Contohkan yang terbaik, berikan yang terbaik agar anak-anak Kita nanti tidak mengulang kesalahan-kesalahan yang sudah Kita lakukan sebelumnya.

      Kembali kepada proses makan Kiland,Saya mulai-mulai mencari ‘alat perang’yang mungkin nanti akan Saya bahas di post selanjutnya, sampai mendekati hari H, Saya menetapkan beberapa hal yang sebisa mungkin akan Saya lakukan :

      1. Saya dan Suami yang tadinya makan secara bergantian karena menjaga Kiland, memutuskan untuk makan di waktu yang sama dengan Kiland. Jika tidak sama dengan Kiland pun saat Kami makan Kami mendudukan Kiland di samping Kami. KENAPA? Karena Saya mau mengajarkan Kiland untuk memakan di meja makan demi kesehatannya sendiri dan mengenalkan jam-jam makan.

      2. Mendudukan Kiland di highchair. KENAPA? Karena Saya mau Kiland belajar untuk makan dengan posisi duduk, makan sambil berjalan-jalan dalam bentuk apa pun tidak baik untuk bayi walaupun dengan alasan “Supaya anaknya mau makan” dan mengusahakan waktu makan tidak terlalu lam. Bagi Kita juga cukup menguras tenaga jika anak harus makan keluar, sambil jalan dan makan sangat lama.

      3. Memulai dengan puree buah. Apa pun yang Kita berikan kepada bayi disaat masa makan pertamanya adalah pilihan Kita, para orangtua. Saya dan Pak Suami memilih buah sebagai makanan pertamanya.

      4. Disiplin mencatat apa yang Kiland makan dan apa pengaruh yang muncul. Hal ini penting untuk mengetahui apakah makanan yang dimakan cocok atau tidak dengan si bayi.

      5. Berusaha untuk memenuhi makan Kiland dengan fresh food paling tidak di tahun pertamanya.
      Semua hal diatas dilakukan dengan Bismillah dan berharap lingkungan mendukung proses ‘balas dendam’ Saya membuat Kiland lebih sehat. Kita boleh banyak membaca, bertanya untuk menambah apa yang sudah kita tahu, tapi kembali lagi Kita harus bertanya kepada naluri diri sendiri untuk menentukan pilihan.

      Selamat 6 bulan kesayangan Mama-Papa.

      Akhirnyaa….

      Perjalanan Saya mencari DSA untuk Kiland akhirnya berujung manis. Proses mendapatkan DSA yang sesuai bak mencari pasangan hidup diantara banyaknya manusia yang Kita kenal. Kadang cocok dengan satu faktor tapi faktor yang lainnya tidak, seperti cocok di isi kantong tetapi tidak cocok di hati Saya, seorang Ibu.

      Di awal-awal pasca melahirkan, pertama kali sekali Saya memang kurang sreg dengan dokter anak di rumah sakit tsb. Dokternya baik banget tapi tetap saja hati kurang sreg, dan sepertinya Ibu Mertua pun sependapat dengan Saya. Kemudian sesuai dengan rekomendasi, Saya mencoba ke dokter lain yang cukup terkenal. Memang terlihat sangat mumpuni dan baik, tapi lagi-lagi hati berkata lain.

      Akhirnyaaaa…. Saya coba untuk ke RS Sam Marie di Pondok Bambu yang kebetulan dekat dengan rumah Mertua & dari rumah juga cukup terjangkau. Setelah tanya-tanya dengan salah seorang teman yang kebetulan lokasi rumahnya juga tidak begitu jauh & pernah konsultasi dengan DSA di RS tsb, Saya diusulkan buat konsultasi ke dokter Cut Badriah.

      Setelah pulang dari luar kota, Saya melakukan registrasi online Kiland untuk ke dokter Cut. Pihak RS 2x menghubungi Saya untuk konfirmasi, buat Saya cara seperti ini efektif walaupun mugkin agak sulit untuk dilakukan jika pasiennya cukup banyak. RS sebelumnya juga melakukan konfirmasi, tetapi melalui SMS dan sepertinya tidak ada koordinasi dari pihak poli yang menghubungi Saya dengan suster yang ada di poli, karena setelah konsul Saya menerima SMS kembali untuk melakukan konfirmasi padahal Saya sudah bersiap untuk pulang.

      Kembali ke RS Sam Marie, bagi yang belum pernah ke RS ini situasi yang bisa Saya gambarkan adalah nyaman karena tidak terlalu ramai (bisa jadi karena Saya datang di weekday), bersih dan staffnya ramah. Kekurangannya lahan parkirnya sedikit dan AC yang terlalu dingin menurut Saya mungkin karena orangnya tidak banyak. Kalau harga, sedikit diatas rata-rata karena konsultasi per kunjungan Rp 200.000, bagi Saya angka tersebut lumayan agak mahal. Nilai plus lainnya, Saya diberikan voucher yang bisa ditukarkan snack disetiap kunjungannya.

      Singkat punya cerita, akhirnya Saya ketemu dengan dokter yang diusulkan oleh teman Saya itu. Ruangan dokter Cut sepertinya memang didesain agar anak-anak nyaman. Tapi buat Saya, Ibu baru yang lagi berjuang berdua suami saja disaat rumah lagi proses “rapi-rapi” langsung ‘kerasan’ dengan dokter ini.

      Begitu masuk ke dalam ruangan, tanpa melakukan hal lain dokter Cut memeriksa Kiland secara keseluruhan walaupun tujuan Saya saat itu melakukan imunisasi, mungkin seperti sudah semacam SOP. Dokter Cut atau mungkin beberapa dokter lain juga pasti ada yang serupa, tidak mau mengandalkan catatan di buku pedoman perkembangan anak yang sudah diisi oleh dokter-dokter sebelumnya.

      Pemeriksaan seperti ini tidak Saya dapetkan di dokter-dokter sebelumnya & yang makin bikin saya ‘kerasan’, tanpa diminta dokter Cut langsung nulis nomor HPnya. Beberapa temen Saya pasti diberikan nomor HP dokter, tapi Saya nggak. Itu normal atau tidak ya? Intinya, terlepas dari apa pun hati nyaman dengan dokter ini.

      Pencarian Saya akhirnya selesai. Saya tidak mengatakan dokter-dokter sebelumya tidak bagus, mereka yang sudah mendapat titel dokter pastinya sudah memiliki kualifikasi sendiri tinggal bagaimana kenyamanan dari sang pasien. Semua soal pilihan. Intinya, Saya sudah menetapkan pilihan dokter Cut sebagai DSA Kiland.

      Semoga Kita bisa memberikan yang tepat untuk sang buah hati, tepat memang bukan berarti yang terbaik di mata orang lain bahkan diri sendiri. Tapi kadang yang tepat lama-lama akan menjadi yang terbaik kalau dilakukan dengan benar, semoga apa yang sudah diputuskan menjadi sebuah keputusan yang baik.