Comfort Zone

Setiap manusia memiliki zona nyamannya sendiri dalam segala situasi. Di rumah dengan tidak melakukan apa pun, di kantor saat jam makan siang memilih untuk berkumpul di kantin, sekolah saat Kita memilih untuk datang 5 menit sebelum bel sekolah, atau di jalanan saat zona nyaman Kita berada di jalur ketiga walaupun jalur kedua terlihat lebih lancar, saat bertengkar Kita memilih untuk pergi atau saat Kita memilih untuk diam dalam sebuah diskusi.

Sewaktu TK, zona nyaman Saya justru ada di mobil dan mendengar suara orang rumah (bahkan Mbak yang mengurus Saya). Nggak tau kenapa Saya nyaman didalam mobil sedan civic Mama Saya dengan menjajah bangku belakang dengan banyak bantal & boneka, dan nyaman saat mendengar semua orang rumah (Mama, Papa dan Mbak Saya) ada di rumah.

Ditengah-tengah masa SD, zona nyaman Saya adalah di rumah dan pikiran Saya menjadi lebih kompleks dengan menganggap kenyamanan yang lain adalah tidak berpikir persoalan matematika. Saya menghindari belajar matematika sendiri di rumah, dan sepertinya kebiasaan itu muncul terus sampai SMP.

Saat SMA, Saya mencoba keluar dari zona nyaman itu dengan bertekad masuk ke dalam jurusan IPA. Kita semua tahu seperti apa ajaibnya persoalan Fisika itu kan? dan saat itu Saya harus membawa beban “masuk kedokteran”, salah satu zona yang sangat tidak nyaman hanya karena Mama tidak bisa masuk kedokteran (saat itu tidak bisa membayar biaya masuk). Saya biasanya menghindari sebuah pemaksaan dengan memberontak keras atau diam. Tetapi saat itu Saya menurut dan menanamkan di pikiran bahwa Saya harus masuk FK.

Kebiasaan menghindari masalah (pada hal ini sebuah pemaksaan) dengan memberontak keras Saya coba untuk hilangkan. Biasanya setelah memberontak yang diakhiri dengan nangis, Saya diam sampai keinginan dituruti (Maafkan sifat anak tunggal ini muncul lagi, semoga Mama & Papa disana mengerti). Kali ini, Saya duduk dengan Mama & Papa, menenangkan diri dan Saya cuma bilang “Aku mau masuk Psikologi”.

Saat itu Saya kelas 2 SMA, dan cita-cita masuk jurusan Psikologi sudah Saya tulis di buku tahunan saat lulus SMP dulu.

Saat itu, Papa Saya berbicara cukup banyak. Saya sendiri kaget karena Kami memang tidak biasa berbicara banyak. Tapi, kadang Kami tau sendiri apa yang lawan bicara Kami rasakan, mungkin ini yang namanya ikatan batin (Oh I love you Dad).

Singkat cerita, Saya bisa mengambil jurusan Psikologi walaupun ditengah-tengah perjalanan Papa masih memaksa Saya untuk mengambil mata kuliah yang berhubungan dengan Psikologi Industri & Organisasi disaat Saya bersikeras mengambil mata kuliah yang berhubungan dengan psikologi anak & perkembangan. Tapi, akhirnya saat Saya wisuda Papa Saya tersenyum juga.

Kali ini, Saya kembali mencoba untuk keluar dari zona nyaman. Keluar dari rutinitas-rutinitas yang biasa dilakukan untuk sebuah zona nyaman baru yang harus Saya bentuk. Terkadang manusia memang membutuhkan sebuah perubahan dan pembelajaran yang bisa diambil dari kejadian yang sudah lewat dengan tidak mengulang lagi.

Tapi kali ini pilihan ini sangat sulit, seperti memilih mana yang akan Kalian selamatkan jika sedang berada diatas Titanic. Ibu hamil atau anak kecil?

Tapi akhirnya Saya mengambil sebuah keputusan besar (semoga tidak dibawah kendali emosi) dengan dituntun oleh Suami (tanpa paksaan & sepenuhnya memberikan beberapa pilihan sebelumnya). Semoga keputusan yang diambil tidak membuat Saya kehilangan orang-orang lagi walaupun kadang kehilangan itu ada baiknya juga.

Buat Saya keluar dari zona nyaman itu sebuah keharusan, apa pun bentuk dari zona nyaman itu. Semoga semua keputusan yang diambil membawa kebahagiaan.

Semoga siapa pun yang membaca tulisan ini, sedang kesulitan mengambil keputusan untuk tetap atau pergi dari zona nyaman (Atau jika tidak sedang merasakan hal serupa, semoga tulisan ini menjadi sebuah media pembelajaran atau hanya sekedar bacaan semata) bisa segera menemukan jawaban yang terbaik & selalu mengingat bahwa hidup tidak selalu harus menuruti kata hati orang lain dan untuk menjadi pribadi yang besar tidak harus memanfaatkan orang banyak. Kita membutuhkan orang lain untuk kegiatan saling memberi, karena di setiap pertemuan Kita pasti memberikan sesuatu kepada orang lain atau lawan bicara Kita. Misalkan saja sebuah nama atau sebuah rasa nyaman mungkin?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s