Moments

Setiap orang memiliki moment terbaik di dalam hidupnya, seperti moment dimana bisa menerbitkan sebuah buku, keliling dunia atau melihat kedua orangtua di tanah suci.

Manusia berhak menentukan moment-moment penting dalam hidup yang bisa dijadikan motivasi untuk berbuat lebih banyak.
Ada yang menjadikan moment sebagai sebuah semangat hidup, ada pula yang menjadikannya sebagai patokan kebahagiaan.
Namun, tidak jarang moment-moment itu menjadi sebuah pelajaran berharga.

Saya menganggap sebuah moment sebagai peristiwa yang terjadi satu kali di dalam hidup yang membuat Saya menjadi mengerti apa arti Saya hidup.

Ada 3 hal di dalam hidup Saya yang saat ini menempati 3 moment terpenting dan terindah.

Pertama, moment terbaik Saya adalah ulang tahun ke-17. Klise memang bagi banyak orang, tetapi bagi mereka yang mengenal Saya pasti mengerti di hari itu berkumpul orang-orang terpenting di dalam hidup Saya, yaitu : Papa, Mama, Kedua orangtua Mama, asisten rumah tangga Saya yang memang sudah ada disana sejak Saya bayi, seorang pekerja bangunan yang sudah seperti Ayah kedua Saya dan seorang sahabat yang mengabadikan moment itu dalam sebuah foto.
Moment ini menjadi semakin berharga karena 4 orang sudah pergi terlebih dahulu meninggalkan Saya, jadi moment itu lah yang masih terekam sangat jelas. Mama yang berdoa, Papa yang mengamini dan orang-orang sekitar mendoakan yang terbaik. Walaupun hanya berlatarkan dapur dan meja makan, Saya sudah merasa seperti di sebuah istana.

Kedua, moment klise lainnya adalah wisuda. Selain menyandang status baru sebagai Sarjana Psikologi, ada satu moment yang tidak pernah terlupakan. Selesai Saya turun dari podium, Saya kembali ke tempat Saya duduk yang memang berdekatan dengan Papa. Saat Saya hendak duduk, Saya tersenyum ke arah beliau dan beliau mengangguk sambil Mama menyeka matanya. Sederhana memang, tapi mengingat bagaimana usaha mereka berdua agar Saya bisa sampai pada titik itu sangat luar biasa. Saya masih ingat, Saya mengerjakan skripsi sambil menemani Papa dirumah sakit saat penyakit mulai menggerogoti tubuhnya. Tapi, beliau tidak pernah tertidur jika Saya sedang mengerjakan skripsi saat itu.

Ketiga, yang masih menjadi moment terbaik adalah saat Saya menunjukkan foto USG kehamilan Saya kepada Mama yang saat itu masih sedikit-sedikit membuka matanya. Mama di diagnosa Ensefalitis karena virus, yang menyebabkan tubuhnya menjadi tidak bisa bergerak dan selama 5 bulan kurang 1 hari berada di rumah sakit dengan posisi terbaring dan harus menyaksikan keinginan terbesar melihat anaknya memakai baju pengantin di dalam ICU rumah sakit saat sebelum akad dimulai karena pada saat itu Mama sempat membuka matanya.
Saat itu Saya masih ingat, Saya berbisik ” Ma, liat ini cucu Mama. Kalau laki-laki pasti mirip Artland & semoga ada sedikit sifat Papa yang pekerja keras. Kalau perempuan pasti mirip Aku atau mungkin membawa sifat Mama yang selalu ikhlas ” saat itu beliau melirik ke arah Saya dan tanpa sadar Saya menangis. Saat itu timbul harapan Mama akan berdiri kembali dan menggendong anak Saya ditangannya, dan ada disana Saat anak Saya nanti bertumbuh, mengajarkan hal-hal baik. Sekedar penghibur karena moment itu tidak akan pernah Saya dapatkan, Suami Saya selalu berkata disaat Saya menangis “Mama akan liat dia nanti sampai gede”

Menariknya ketiga hal tersebut tidak akan pernah bisa kembali. Hanya Saya yang akan mengingat ketiga hal tersebut dengan sangat jelas.
Moment-moment itu bisa saja tergantikan dengan moment lainnya, tetapi mungkin tidak akan pernah dilupakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s